Christianto menyarankan BI mendeklarasikan kembali ke sistem managed floating exchange rate.

Jakarta – Bank Indonesia hendaknya kembali menerapkan managed floating exchange rate untuk menjaga stabilitas rupiah yang dalam sebulan terakhir ini “terjun bebas”. Sistem free floating exchange ratedi tengah tekanan global hanya memicu ketidakpastian karena rupiah tak akan pernah bisa stabil. Pekan ini, rupiah melemah hingga nyaris menembus Rp 15.000 per dolar AS.

“Sejarah menunjukkan, ketidakpastian dan kondisi ekonomi yang terpuruk akan dimanfaatkan oleh oposisi,” kata Ketua Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono, Sabtu (8/9). Ia menunjuk kejatuhan Presiden Soekarno 1966 dan Presiden Soeharto 1998 sebagai contoh kuatnya peran ekonomi dalam pergantian rezim.

Ketika krisis baht merebak di Thailand tahun 1997, PDBI menyarankan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk mendevaluasi rupiah dari Rp 2.250 ke Rp 5.000 per dolar AS. Namun, langkah itu tidak diambil.

“Waktu itu, pemerintah mengabaikan kenyataan dan membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa fundamental ekonomi RI kuat,” kata bakal calon anggota DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Dituliskan oleh Primus Dorimulu, terbit pada Sabtu, 8 September 2018. Baca selengkapnya di Beritasatu.com dengan judul “Christianto Wibisono: Kembali ke Managed Floating”.