Hari Selasa 10 Juli adalah hari ulang tahun ke-93 PM ke-4 (dan ke-7) Malaysia Tun Dr. Mahathir Muhamad yang berketurunan Pakistan dan bukan 100% bumiputera Melayu Malaysia.

BK: Kita mengucapkan selamat kepada Mahathir yang berani menahan mantan perdana menteri Najib Razak atas dakwaan korupsi meskipun dibebaskan dari tahanan setelah membayar uang jaminan. Sekarang yang gaduh di Indonesia adalah koruptor dan bekas napi termasuk terpidana kriminal pembunuhan bisa jadi caleg lagi . Itu yang  menjadi krusial ditengah perhelatan pilpres 2019.

BK: Hari ini 10 Juli 1959 adalah pembentukan kabinet presidensial kedua RI setelah saya mendekritkan berlakunya kembali UUD 1945. Maka nomenklatur jabatan Ir. Juanda yang sebelumnya adalah Perdana Menteri Kabinet Karya sejak 9 April 1957 berubah jadi  Menteri Pertama sampai ia wafat pada tanggal 7 November 1963. Menyusul Menteri Kehakiman Saharjo wafat 8 November maka pada 13 November Kabinet Kerja saya reshuffle dengan 3 waperdam sebagai presidium yaitu Subandrio, Johannes Leimena dan Chairul Saleh.  Karena Waperdam I merangkap menlu, maka jika saya keluar negeri, didampingi menlu Subandrio justru yang menjadi pejabat presiden adalah Johannes Leimena dan tidak ada orang ribut protes model Almaidah Buni Yani.

Sekarang Juli 2018 atau 59 tahun setelah Dekrit Presiden elite Indonesia sibuk mempertimbangkan kriteria bahwa cawapres pendamping Jokowi yang dinilai “abangan sekuler” harus dari “ santri syariah”. Tahun 2004 Megawati didampingi Hasim Musyadi dibulldozer oleh SBY-Jusuf Kalla juga dengan citra bahwa duet paslon harus berlatar belakang “abangan/santri”.  Tapi waktu jilid 2; SBY dengan pede menggandeng Boediono, tehnokrat tanpa peduli harus pakai “background santri”.  Jokowi memakai JK dengan pola persis SBY jilid 1 yang mau dipaksakan ke jilid 2. Apa sebetulnya kebutuhan bangsa Indonesia pada tahapan sekarang ini?

Secara geopolitik perang teror sudah berhasil di”lokalisir” kembali ke”sumber konflik Timur Tengah ke kawasan lokasi akar masalah sengketa Israel Palestina. Bahkan secara “endogenous” berdasarkan naluri politik domestik dan nasionalisme Saudi Arabia, sang putra mahkota Mohamad Bin Salman (MBS)  sedang berperan sebagai Martin Luther terhadap dogma Wahabi dan Salafi. Jika MBS sukses mereformasi konservatisme Takfiri maka Timur Tengah diharapkan bisa mengakhiri “Perang Sabil” seperti Trump Kim mengakhiri sisa Perang Dingin Korea untuk suatu dunia bebas ancaman perang ideologi dan perang antar peradaban menurut teori Huntington. Jika Timur Tengah sudah mengikuti irama Trump-Kim maka akan lucu sekali kalau Indonesia masih ada yang berkiblat ke Wahabi Salafi, Kalifah, sedang Timur Tengahnya sendiri menuju demokrasi modern meritokratis non dogmatis non-doktriner, karena harus siap bersaing dalam kompetisi kreatif antar peradaban yang hukum besinya efisiensi ilmu pengetahuan teknologi dan industri 4.0 lintas galaxi, lintas abad , lintas peradaban.

Jadi wakil presiden yang dibutuhkan adalah yang bisa menghadapi tantangan persaingan global baru dengan ramifikasi era perang dagang dan atau dagang perang,  Kriteria abstrak “ideologi ketinggalan zaman”  dikotomi syariah abangan sejak zaman Clifford Geertz kenapa masih dipakai untuk menentukan kriteria elite paslon duet presiden wakil presiden RI abad XXI.

Sumber: Indonews.id

CW: Nyatanya faktor “rekam jejak dan latar belakang agama” masih dijadikan “kriteria” sampai detik ini dan Presiden Jokowi tampaknya sangat tersandra oleh dikotomi itu.

BK: Kalau ditelusuri Sukarno Hatta tidak pakai kriteria itu sebab Hatta tentu tidak mau kalau dinilai sebagai lebih ustadz dan defisit sekuler. Soeharto, Sultan, ya dua duanya abangan. Adam Malik malah dari Murba, Umar jendral profesional, Sudharmono jendral birokrat, Try Sutrisno loyalis korps, Habibie nah ini yang justru politisi yang dinilai jadi Brutus terhadap Soeharto yang di”jotak”e sampai akhir hayat Soeharto tidak mau dibezoek Habibie.  Ketika Gus Dur menyalip Megawati di tikungan dengan “modal dengkulnya Amien Rais” maka fatwa agama dimanipulasi secara sangat Machiavelistis tapi setelah itu justru  Amien Rais menggulingkan Gus Dur dan mengangkat Mega yang lalu didamping Hamzah Haz sebagai “wakil syariah”.  Seterusnya kita kembali ke siklus SBY jilid 1, 2 dan sekarang Jokowi 2.0 juga masih diganggu oleh kriteria abangan syariah.

CW: Faktor 58:42 kekalahan A Hok dari Anies sangat “menghantui” kalkulasi politik elite Indonesia

BK: Jokowi harus berani lepas dari paranoid ketakutan terhadap Aksi 212 dan atau Al-Maidah Buni Yani.  Sekarang ini faktor utama adalah ekonomi dan kurs rupiah. Dapatkah presiden ke-7 lolos dari hantu dan virus keterpurukan nilai kurs rupiah yang selama hampir 74 tahun terus mencederai ekonomi RI? Jadi mestinya memang Jokowi harus berani memilih tehnokrat yang mumpuni, berbobot dan berkinerja untuk mengatasi warning Its The Economy, Stupid!. Slogan ini menjatuhkan Presiden George Bush Sr oleh Gubernur Bill Clinton meskipun yang menjadi Gubernur bank sentral AS waktu itu adalah Alan Greenspan 1987-2006.

CW: Presiden sudah bertemu Megawati hari Minggu 8 Juli di Istana Batu Tulis. Ada bocoran dari bapak tentang siapa cawapres yang sudah disepakati oleh Ketum Mega dan presiden petahana?

BK: Butterfly Effect adalah teori yang dibuat oleh  Edwin Lorentz 23 Mei 1917 -16 Aril 2008 mendahului  teori chaos Ilya Prigogine 25 Jan 1917-28 Mei 2013 dalam  Order out of Chaos 1984. Keduanya lahir tahun 1917 ketika Lenin menerapkan Marxisme Komunisme di Uni Soviet.  Keduanya menyaksikan bangkrutnya ideologi dan sistim serta rezim komunisme di Uni Soviet maupun di Tiongkok.  Soeharto sudah menolak komunisme 1965 tapi sayang setelah itu pada tahun 1998 rezim junta militer Orde Baru jatuh sama dengan rezim kiri Manipol maupun rezim Marxis Uni Soviet dan RRT . Dan sekarang pun semua presiden dan semua menteri waswas takut dijatuhkan oleh lawan politik karena gagal mempertahankan kurs rupiah. Kita bicarakan ini lebih serius spesifik nanti sebagai bekal elite Indonesia menetapkan cawapres ke-13.  Apakah akan langsung jadi capres ke-8 pada 2024 atau sekedar ban serep lagi. Padahal Jokowi kan tidak akan maju lagi 2024 setelah menang 2019 ini. Perhatikan Butterfly Effect Demo 411 di Jakarta dalam tempo 3x24j am direspons oleh pemilih AS dengan kemenangan Trump atas Hillary yang diluar dugaan semua lembaga survey. Massa pemilih AS gemetar melihat kekuatan massa 411 di Jakarta dan mengalihkan suaranya ke Donald Trump. Massa pemilih Prancis memilih Macron sebab kapok kalau sampai Prancis jatuh ke tangan Mari Le Pen (Donald Trump nya Prancis). Massa pemilih Jerman mempertahankan Merkel sebagai benteng politisi Eropa yang masih berani membela “imigrasi” ketika populisme sudah bergerak ke ekstrem Le Pen. Kemenangan Mahathir meski masih memakai bendera “etno politik”  telah merombak konservatisme dengan diangkatnya Lim Guan Eng menjadi Menteri Keuangan setelah sejak insiden rasial terburuk 13 Mei 1969, portofolio  itu di monopoli oleh Melayu. Kita akan bahas butterfly effect pilpres 2019 setelah keluar putusan siapa paslon pilpres 2019.

CW: Wah pembaca inginnya bapak segera membuka nama di kantor presiden Jokowi.

BK: Sebetulnya kalian salah semua, presiden hafal luar kepala nama cawapres. Tidak perlu kertas.

WIBK 10 JULI 2018 oleh Christianto Wibisono Ketua Pendiri PDBI