Hari Kamis 12 Juli bersama Bung Karno saya menghadiri rapat konsolidasi relawan Jokowi di Jokowi Center jalan Mangunsarkoro. Menurut rencnna semula KSP Muldoko dan anggota Wantimpres Sidarto akan memberi briefing perkembangan mutakhir sekitar pilpres terutama nama cawapres Jokowi yang semakin mengerucut menjelang deadline 10 Agustus 2018.

CW: Selamat sore pak ini relawan dan rakyat baik yang pro maupun yang menolak Jokowi sudah tidak sabar ingin segera tahu paslon  dari incumbent Presiden maupun alternatif dari oposisi yang juga ambur adul chaos saling berebut posisi.  Untung pemerintah sudah membereskan kontrak Freeport  dan gejolak rupiah sudah ditenangkan sehingga tidak membahayakan seperti ketika George Bush Sr dikalahkan Bill Clinton dengan semboyan Its the economy! Stupid!ditahun 1992 meskipun sukses mengusir Saddam dari Kuwait 1991.

BK: Ummat Islam dan masyarakat dunia mengenal kisah jenaka storyteller Nazarudin yang hidup sekitar abad ke-13 sekitar 1275 Masehi ketika Timur Tengah menghadapi ancaman invasi Mongol dibawah Genghis Khan. Nazarudin ini populer dengan joke yang segar mengatasi masalah serius dalam posisi sebagai kadi  (hakim) yang “intelektual” karena menguasai filsafat serious dan seni humor mungkin kayak Jaya Suprana. Di Indonesia banya orang memakai nama Nazarudin dengan pelbagai ejaan pakai S atau Z ,Nasrudin atau Nazarudin. Dulu dizaman Orba ada Menteri Muda Keuangan Nasrudin Sumintapura. Di era Reformasi, ada Ketua KPU Nazarudin Syamsudin yang sayang sekali harus berurusan dengan KPK. Lalu ada Nasrudin ketiga yang juga sial terbunuh dan mengakibatkan Ketua KPK ke-2 Antasari Azhar jadi korban dipidanakan. Nasrudin ke-empat adalah bendahara Partai Demokrat yang paling muda usia karena lahir 26 Agustus 1978 dan sudah  aktif berpolitik pada umur 30an.

CW: Apa relevansinya Nazarudin dengan isu cawapres.

BK Nah kita pakai kriteria bahwa diperlukan politisi atau tokoh non partisan yang memenuhi kriteria “santri” sebagai pendamping “abangan” Kalau bisa dari luar Jawa karena petahana Presiden orang Solo. Cawapres ke-13 ini harus menambah elektabilitas tanpa menimbulkan gaduh atau friksi dengan petahana presiden jika orangnya sangat ambisius atau berpotensi jadi penerus, sebab partai politik ingin memasuki pilpres berikutnya pasca Jokowi , dengan figure fresh, free for all, cawapres harus tidak boleh  ada beban atau atribut sebagai calon putra mahkota .  Yah seperti Boediono waktu SBY jilid 2 kan tidak berpotensi jadi putra mahkota, tapi itu justru membuat SBY sekarang kelabakan mencari  mata rantai yang hilang bilang anaknya AHY sampai tidak kebagian estafete kabinet Jokowi 2.0 Nah Jokowi tidak mau membuat dinasti karena memang tidak siap dan tidak punya keluarga kerabat untuk jadi dinasti. Dia tidak punya beban, dia hanya mau menyelesaikan tantangan zaman yaitu menurunkan ICOR 6,4 agar infrastruktur Indonesia memadai untuk Indonesia jadi negara maju dalam satu generasi kedepan. Repotnya regim Nasionalis religius Jokowi ini menghadapi tantangan “kerumunan teokrasi primordial “ era Nasrudin Timur Tengah. Maka perlu seorang “Nazarudin modern” abad XXI yang mampu menjadi pencerah, pencerdas dan pembaharu yang berakar dalam doktrin tapi rasional dalam konteks modernisasi Islam dan demokrasi meritokratis. Ia lahir 23 Juni 1959 dan mencapai punca k karir sebagai Wakil Menteri Agama kabinet SBY jilid 2. Terakhir menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Saya memperoleh bocoran dari lingkaran istana presiden, ketum PDIP dan elite yang merasa sedang berfungsi sebagai kingmaker atau malah GR mampu jadi king atau wakil king.  Nazarudin Umar ini pada kurs 12 Juli 2018 menjadi paling favorit untuk menjadi pasangan incumbent presiden. Dengan catatan bila situasi ekonomi tidak memburuk dan juga radikalisme serta fundamentalisme jihadis tidak membahayakan eksistensi Republik, maka NU dari NU ini adalah figure yang pas. Banyak yang bernama Nazarudin dengan pelbagai nasib yang naas maupun yang hok gie  Segera harus dicatat bahwa karena sejarah masih berjalan, maka bocoran ini mungkin saja “diralat” atau berubah Mirip kurs rupiah, nama cawapres bisa berubah sesuai cuaca politik mutakhir yang tidak terlepas dari percaturan geopolitik yang juga berubab-ubah. Maka WIBK ini harus stand by bila perlu setiap hari bisa “berubah” karena situasi “berubah”maka laporan dan analisa tentu harus berubah. Kita ucapkan selamat kepada Bung Nasaruddin Umar Imam Besar Mesjid Istiqlal atas “posisi” anda dalam peringkat kandidat cawapres dalam kantong Presiden Jokowi. Tapi segala sesuatu masih bisa berubah sampai tanggal 10 Agustus 2018. Setelah itu juga masih harus kerja keras untuk memenangkan pilpres 17 April 2019.

CW: Terima kasih atas bocoran 12 April 2018 bertema Nazarudin abad 13 akan menjadi nama cawapres ke-13 RI. Tapi orangnya baru ke 12, karena wapres ke 10 lihay bisa dua kali jadi wapres hanya diselipi oleh wapres ke-11 Boediono. Jadi semua “wangsit “ mengacu ke no 13 yang kali ini bukan angka sial tapi hok gie bagi Nazarudin cawapres RI ke-13. Setuju kita muncul setiap momentum bila terjadi perubahan dramatis dalam kompetisi total  9 bulan pilpres 2019