Berikut adalah artikel online “Di Balik Bonus Demografi 2020” yang ditulis oleh Siswanto Cemonk di portal Watyutink tertanggal 10 Oktober 2017. 

Ilustrasi: Muid/Watyutink.com, sumber foto: cdn.brilio.net

Dua tahun lagi, tahun 2020, Indonesia menghadapi bonus demografi.  Tapi,  tunggu. Bonus itu bisa jadi pedang bermata dua. Dia berkah jika mampu dimanfaatkan. Bila gagal, itu bencana. Kunci dari bonus ini adalah kualitas manusia Indonesia itu sendiri. Besaran mayoritas anak muda (15-45) dalam komposisi demografi Indonesia mendatang adalah bonus, jika mayoritas usia produktif (15-65) ini mampu menjadi tulang punggung bangsa dan negara ke depan.

Bandingkan dengan Jepang. Mortalitas (angka kematian) sukses ditekan sehingga angka harapan hidup melejit drastis. Padahal natalitas (angka kelahiran) pun makin menurun mencapai ZPG (zero population growth). Komposisi demografi Jepang pun kian tahun kian didominasi lansia. Bahkan populasi Jepang sejak 2004 beringsut kian menyusut tiap tahun. Populasi beban tanggung (usia nonproduktif ) kian meningkat, terutama terkait biaya kesehatan. Padahal beban itu niscaya ditanggung usia produktif yang berjumlah makin menipis. Alhasil Jepang pun memasuki krisis “bom waktu demografi”.

Jika melihat dari segi ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang 2015 ekonomi Indonesia tumbuh 4,79 persen atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Product Domestic Bruto (PDB) Indonesia tahun 2014 mencapai Rp11.540,8 triliun. Sementara PDB perkapita mencapai Rp45,2 juta atau 3.371,1 dolar AS. Sangat jauh dibandingkan dengan beberapa negara lain di ASEAN yang masuk dalam 100 negara kaya di dunia versi Bank Dunia tahun 2016, seperti Malaysia sebesar 10.538 dolar AS, Brunei Darussalam sebesar 38.563 dolar AS, dan Singapura sebesar 55.182 dolar AS. Bagaimana dengan bonus demografi pada 2020, akankah potensi ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi? Jangan-jangan semakin terpuruk?

Bonus demografi memang sigap diantisipasi oleh pemerintah dengan agenda kerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Seturut Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index – IPM/HDI) dunia, Indonesia tercatat di urutan 111 dari 182 negara. Indonesia pun di urutan enam dari 10 negara ASEAN.  Itu menunjukkan pekerja Indonesia tidak kompetitif. Jadi sesiap apa Indonesia menyongsong bonus demografi? Sejauh mana jabaran kerangka pelaksanaan RPJMN itu? Bahkan Korea Selatan dan Singapura mulai mengenyam fenomena bonus ini  melalui peningkatan produk domestik bruto (PDB).

Puncak bonus demografi 12 tahun mendatang jatuh bertepatan dengan 100 tahun peringatan Sumpah Pemuda.  Soekarno pernah melantangkan pesan, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.” Ada berapa pemuda produktif saat bonus demografi tiba?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

Opini Bapak Christianto Wibisono terkait artikel di atas:

Demografi Produktif Bukan Distributif

Bonus demografi semestinya dimanfaatkan, tidak cuma dislogankan dan dijadikan momok awas bisa jadi malapetaka kalau tidak digarap secara operasional. Memanfaatkan potensi bonus itu ya konsisten efisiensi nasional. Konsisten pembangunan manusianya, edukasinya. Terlalu banyak retorika dan slogan, tapi faktanya pendidikan teknik terlantar karena semua lebih banyak ke ilmu sosial non teknologi.

Riwayat seluruh negara maju adalah pendidikan insinyur dan teknik yang memproduksi lebih banyak dari bidang sosial yang cuma redistributif. Jadi kalau kita banyak produksi tukang omong tukang kritik dan tukang goreng, isu ya kita tidak akan kemana mana, melainkan jadi bangsa yang ketinggalan zaman dibanding bangsa lain yang sudah melampaui tiga revolusi.

Seperti kata Jack Ma, revolusi pertama adalah membebaskan otot manusia dari kerja fisik oleh mesin dan tenaga listrik. Revolusi kedua mengatasi kendala jarak, orang menghemat waktu dalam mengarungi dunia. Revolusi ketiga memasuki teknologi robotik, tapi harus diimbangi dengan revolusi arif bijaksana, manusia yang menghargai kompetisi secara fair. Sehingga orang dan bangsa yang terbaik kinerjanya berhak atas posisi kepemimpinan global.

Tentu saja dengan balance antara kompetisi kreatif antarperadaban dan jaminan sosial, kebutuhan fisik biologis minimal dihasilkan oleh tiga revolusi industri. Nah kalau kita cuma mengomel dan menyesali nasib, apalagi tidak memahami sejarah revolusi industri dan peradaban, kita hanya benci dan iri kepada bangsa lain tapi tidak pernah memperbaiki mental dan semangat kita sendiri untuk belajar dan meningkatkan kualitas, jangan salahkan nasib atau Tuhan jika nation state ini ketinggalan dalam peringkat kinerja di segala bidang. Surat Al RAd, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak berkemauan keras untuk merubah nasibnya. (cmk)