Pertama kali dimuat pada blog https://hagemman.wordpress.com dengan judul “FTA Butuh Kebijakan Efektif” yang dituliskan oleh hagemman dan diposting pada tanggal 4 February 2010.

Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China adalah ancaman sekaligus peluang. Untuk menghadapinya, Indonesia harus membuat kebijakan yang efektif dan kuat agar industri nasional memiliki daya saing di pasar dunia.

Demikian diungkapkan Direktur Global Nexus Institute Christanto Wibisono dalam CEO Summit 2010 “Empowering Indonesia Inc and ASEAN Inc When China Rules the World” di Jakarta, Selasa (26/1).

Christianto menyarankan agar Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (CAFTA) tidak dilihat sebagai bencana. “ China akan mengalirkan produknya ke kita, tetapi kita juga dapat memenuhi pasar mereka dengan produk kita, “ ujar dia.

Namun, CEO PT Voksel Elektrik Tbk Michael Tjandrawinata khawatir CAFTA akan membuat industri kabel yang digelutinya sulit bersaing di pasar domestik. Hal itu karena berbagai kemudahan diberikan Pemerintah China kepada industrinya, seperti insentif pajak untuk industri yang mampu mengekspor 13 persen dan bunga kredit rendah.

Menurut Christianto, pemerintah perlu melihat posisi Indonesia dalam perdagangan dunia. Dalam data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tentang 50 eksportir teratas dunia 2008, Indonesia tidak termasuk di dalamnya. Padahal, Singapura, Thailand, dan Malaysia masing-masing di peringkat 14, 29, dan 30.

Sumber: https://hagemman.wordpress.com

Di perdagangan dunia, peringkat Singapura sama dengan nilai 338,2 miliar dollar AS, Malaysia peringkat ke-21 dan Thailand ke-26. “ Indonesia sebagai negara paling besar di Asia Tenggara ranking ke-31 dengan nilai 139,3 miliar dollar AS atau kurang dari separuh nilai ekspor Singapura, “ kata dia.

Menurut Martin Jacques, penulis When China Rules the World, pertumbuhan ekonomi China melejit sangat cepat. Tahun 2025 China akan menyamai produk domestik bruto (PDB) AS yaitu 20.000 miliar dollar AS.

Ia memprediksi, 2050 China akan memimpin perekonomian dunia dengan PDB 70.000 miliar dollar AS. Adapun PDB AS di bawah 40.000 miliar dollar AS, sama dengan India.

Sumber :

FTA, Butuh Kebijakan Efektif – Kompas, 27.01.2010
Data : Global Nexus Institute | Grafis : Gunawan