Berikut adalah artikel online “Government Shutdown AS dan Ekonomi Neolib” yang ditulis oleh Tim Redaksi Watyutink tertanggal 24 Januari 2018. 

Sumber illustrasi foto: Muid/watyutink.com

Government Shutdown AS dan Ekonomi Neolib

Sengkarut politik di Amerika Serikat (AS) masih panas. “Government Shutdown” memang berakhir pada 23 Januari 2018 dengan ‘mengalah’nya pihak senat dari partai Demokrat yang akhirnya mau berkompromi mengenai masalah program Deferred Action of Children’s Arrival (DACA) bagi imigran di AS. Tetapi perseteruan pihak senat, kongres dan Presiden, yang mewakili kepentingan dua kubu partai: Republik dan Demokrat, bak kuali yang telah dipakai memasak air yang baru mendidih, masih butuh kain lap untuk mengangkat. Dinamikanya masih akan terus berkembang.

Permasalahan politik AS pasti berpengaruh terhadap ekonomi, dan kemudian berimbas kepada kondisi ekonomi dunia, mengingat acuan nilai tukar mata uang dunia masih menggunakan dolar Amerika. Terlebih sejak era kebijakan “America First”-nya Trump. Akankah Government Shutdown di Amerika berdampak pada ekonomi Indonesia? Seberapa jauh?

Sebagai negara super power, ekonomi AS memang unik. Defisit perdagangan AS lebih dari 400 miliar dolar AS per tahun. Impor AS lebih banyak daripada ekspor. Namun, ekonomi Amerika dianggap kuat dan dipercaya akan semakin kuat.

Orang Amerika lebih sering berbelanja dan menghabiskan uangnya ketimbang menabung dan berhemat. Dengan perdagangan yang selalu defisit setiap tahunnya, dari mana AS mendapatkan uang untuk dibelanjakan? Sebagian besar pengamat menyebut, AS mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan konsumtif masyarakatnya dari pinjaman Jepang, China, dan bahkan India.

Pengamat ekonomi menyebut bahwa hampir semua orang dan semua negara menabung untuk Amerika dan untuk membiayai belanja orang Amerika. Tabungan global sebagian besar diinvestasikan di AS dalam dolar AS. Hingga hari ini, AS telah mengambil lebih dari 5 triliun dolar AS dari uang negara-negara di dunia. Seperti dunia menghemat untuk Amerika, kemudian orang Amerika menghabiskannya dengan bebas dan ‘woles’ untuk belanja. Dunia bergantung pada konsumsi AS untuk pertumbuhannya.

Tapi karena AS membutuhkan uang untuk membiayai konsumsinya, dunia menyediakan uangnya. Agar konsumsi AS tetap berjalan, ekonomi AS harus berjalan. Untuk itu, negara-negara lain harus mengirimkan 180 miliar dolar AS per kuartal, atau sekitar 2 miliar dolar AS setiap hari ke AS!

Kenapa bisa begitu? Kenapa Amerika begitu berkuasa hingga ekonomi dunia sangat bergantung dengan Amerika, bahkan sampai rela mendukung dan membiayai sifat konsumtif orang Amerika?

Jika, Jepang, China, dan India rela menabung demi orang Amerika bisa berbelanja agar ekspor mereka tidak turun dan terus naik, bagaimana dengan Indonesia?

AS adalah salah satu pasar utama ekspor Indonesia dengan nilai ekspor nonmigas mencapai Rp216 triliun pada tahun 2017 (berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan) dan diperkirakan akan naik setiap tahunnya. Ini artinya Indonesia juga ikut menabung untuk membiayai hobi belanja orang Amerika, kan?

Apakah ini memang tujuan dari ekonomi neo-liberal yang saat ini tengah dijalankan dan mencengkram Indonesia? Lantas, kapan kita bisa berdikari dalam ekonomi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(afd)

Opini dari Bapak Christianto Wibisono terhadap artikel di atas:

RI Siap Ikut Transformasi Produktivitas Global

Pertama kita harus berhenti dan keluar dari jebakan dikotomi “Perang Dingin” tentang ideologi kiri berdasar Marxisme, kolektivisme, diktatur proletariat dan sosialisme sebagai pahlawan proletar sejati. Sedang ideologi kanan dicap kapitalisme liberalisme, exploitation de l’homme par l’homme. Itu sudah kuno ketinggalan zaman dan dikubur di Tembok Berlin serta dilindas oleh barisan tank di Tiananmen 1989.

Deng Xiao Ping dengan tepat menyatakan bahwa RRT telah 30 tahun mencoba Marxisme (sejak 1 Oktober 1949-1979), tapi nyatanya gagal mendeliver sembako di supermarket. Karena itu RRT kembali ke pasar, karena Market lebih tua dari Marxis. Sebaliknya kapitalisme liberal itu sudah mawas diri setelah menghadapi tantangan komunisme dan fasisme serta mengalami kegagalan pasar berupa krisis depresi saham saat bursa Wall Street anjlok di tahun 1929.

Anatole Kaletsky dengan cerdas mengulas dalam buku Capitalism 4.0 bahwa ideologi kapitalisme itu mengalami 4 metamorfose. Pertama, sejak revolusi industri 1.0, mesin uap zaman James Watt, memang seolah ekonomi diserahkan kepada “the invicible hands’ liberalisme pasar bebas, laizzes faire laissez passe.

Capitalisme 1.0 ini berlangsung sampai kegagalan bursa 1929 serta lahirnya negara komunis pertama Uni Soviet di tahun 1917. Tapi Barat AS dan Eropa (Inggris) tidak ikut arus jadi komunis, melainkan mengambil jalan tengah Sosial Demokrat. Hak buruh dijamin dan sistem jaminan sosial serta intervensi negara dan pemerintah dalam ekonomi masuk mengatasi kegagalan bursan Wall Street. Inilah “Keynesian economics” di Inggris warisan John M Keynes dan New Deal FDR di AS.

Sampai Perang Dunia II, ketika Barat dan Uni Soviet bersekutu untuk menghentikan fasisme poros Roma-Berlin-Tokyo, ekonomi politik berjalan paralel. Kekuatan ekonomi menjadi landasan kekuatan militer dan politik. Karena itu ada semboyan pilihan: bread and buttter or bullet. Kalau anda punya duit lebih, anda buat beli senjata atau buat makan minum, dan sandang pangan ekonomi.

Nah, selama 20 tahun sejak Perang Dunia II terjadi suatu anomali. Dimana negara kaya yang menang perang malah ‘membiayai’ bekas musuh yang jadi sekutu Jerman dan Jepang untuk membendung komunisme Soviet dan RRT. Dari zaman kuno sampai 1945, negara yang kalah perang selalu dihukum membayar rampasan perang untuk negara yang menang, sebagai hukuman atas perkara perang dan kekalahan yang dideritanya. Tapi karena anomali, AS justru membiayai Jerman dan Jepang, dan menjadikan mereka sekutu membendung komunisme Soviet dan RRT.

Karena itu ekonomi AS melemah: terlalu besar pasak dari pada tiang. AS telah menjadi polisi dunia, serta membiayai ekonomi dunia. Maka, Nixon menghentikan pertukaran dolar AS dengan emas pada 1971 dan mulai diplomasi segi tiga antara AS-Soviet-Tiongkok, yang kemudian dikenal dengan sebutan “keseimbangan Sam Kok”. Reagan melanjutkan dengan liberalisme sektor perbankan yang dikerangkeng sejak krisis 1930an. Inilah capitalisme 3.0 yang akan bermuara pada krisis moneter yang terjadi di AS pada tahun 2008, satu dasawarsa setelah krismon Asia Timur 1998.

Maka, kapitalisme juga mawas diri, dan bertransformasi lagi menjadi capitalisme 4.0. Dalam konteks rivalitas Barat-Timur yang sekarang menjadi AS-Tiongkok, terjadi ironis dan anomali dimana Trump malah cenderung “nasionalistik proteksionis”. Sedang Xi jinping justru menjadi kampiun liberalisme dengan perdagangan bebas global anti proteksionis.

Jadi kita harus cerdas, cermat dan canggih. Upaya persekutuan 11 negara ex TPP di Tokyo setelah Trump meninggalkan TPP harus ditindak-lanjuti dan kita sendiri harus berhenti berbicara tentang slogan yang menyederhanakan seperti neolib, dan sebagainya. Sebab, sekarang ini doktrin dan dogma zaman perang dingin sulit diberlakukan secara konyol dan membabi buta. Karena itu kita kembali ke kata kunci: produktivitas. Itulah yang dikejar Presiden Jokowi, dengan menurunkan angka ICOR dari 6,4 supaya ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen menjadi 7 persen.

Ini adalah era balapan efisiensi, produktivitas, kreativitas bukan slogan kosong dogma retorika yang tidak jelas ujung pangkalnya dan ketinggalan zaman. Siapa lebih produktif dia yang akan menang pertarungan lomba efisiensi global. (afd)