Berikut adalah artikel online “Menyoal Tumbangnya Satu Persatu Situs Sejarah” yang ditulis oleh Siswanto Cemonk via portal Watyutink tertanggal 23 Desember 2017.

Sumber Foto: jimlakwon.com

Rencana pemerintah membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menuai penolakan dari para pegiat sejarah. Pasalnya, di areal tersebut terdapat situs sejarah “Rumah Cimanggis”, Depok, yang berasal dari abad ke-18 juga akan ikut tergusur. Ini bakal berdampak hilangnya situs sejarah penting milik warga Kota Depok. Apalagi “Rumah Cimanggis” sudah didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya dan telah mengantongi rekomendasi dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Dari catatan sejarah, “Rumah Cimanggis” yang dibangun selama empat tahun (1771-1775) adalah milik Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus Van Der Parra dan ditempati bersama isteri keduanya, Yohana Van Der Parra. Di masa selanjutnya, sempat pula menjadi mess pegawai RRI. Nilai kesejarahan “Rumah Cimanggis” kerap diangkat media lokal maupun asing.

Nah ini yang kontradiktif. Proyek pembangunan kampus ini dibiayai APBN dengan payungi hukum Perpres Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII. Apakah tidak ada kajian secara mendalam sebelum mengeluarkan Perpres sehingga terkesan bertentangan dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Lebih jauh lagi, rencana pembangunan dengan menggusur itu bertentangan dengan program Nawacita butir delapan tentang sejarah. Apa yang mendasari pembangunan kampus UIII seluas 142 hektare itu? Jika ingin terlihat gagah dengan membuat kampus Islam terbesar, bukankah bisa memaksimalkan Kampus UIN Syarif Hidayatullah yang berlokasi di Ciputat? Tidak salah kalau banyak yang berasumsi, ini bukan sekadar gagah-gagahan atau berorientasi bisnis, melainkan ada agenda penghancuran bangsa.

Kasus yang akan menimpa “Rumah Cimanggis” mengingatkan kita akan penggusuran Pasar Ikan oleh Pemda DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Itu adalah ilustrasi cukup terang-bederang tentang adanya aksi berstrategi, terencana, dan terprogram untuk menghilangkan ingatan sejarah geopolitik Sunda Kelapa, asal muasal Kota Jakarta.

Penggusuran Pasar Ikan, juga nantinya “Rumah Cimanggis”, sejatinya hanya gejala permukaan dari sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Rentetan kasus penggusuran situs bersejarah mengundang  pertanyaan yang menggelitik, apakah peristiwa itu bagian dari perang asimetris yang sengaja dibuat untuk menghancurkan negeri kita?

Tengok apa yang telah dilakukan AS dan sekutunya di Irak pasca Saddam Hussein. Mereka menghancurkan semua situs-situs sejarah negeri 1001 malam. Nyaris tak ada yang tersisa. Bisa ditebak, generasi mendatang Irak bakal sulit menemukan bukti kejayaan negerinya.

Juli Lina, penulis Swedia, menulis: kalau ingin menaklukkan sebuah negeri tanpa melalui aksi militer, cukup lakukan tiga langkah: kaburkan sejarahnya, hancurkan bukti-bukti sejarahnya agar tak bisa dibuktikan kebenarannya, dan putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

Opini Bapak Christianto Wibisono terkait artikel di atas:

Indonesia dengan Sejarahnya Tak Mungkin Dihapus

Beberapa nomenklatur teraduk jadi adonan buffet campuran lokal Cimanggis Kompeni VOC dan pusat Universitas Islam Internasional futuristik yang sedang  mengalami transformasi internal oleh Reformasi MBS terhadap mazhab fundamentalis Wahabi Salafi.

Sejarah sedang ditulis ulang dari abad ke -7 hingga abad 21. Tuhan tidak bisa dikerangkeng oleh manusia abad ke-7 sebab Tuhan itu infinity, tidak terbatas. Indonesia dengan Borobudur tidak mungkin dihapus oleh piramida Mesir. Kita percaya Tuhan lebih besar dari agama prasejarah sebab Tuhan melampaui sejarah di Eropa, di Asia, di Jawadwipa, juga di Borobudur.

Jangan biarkan Tuhan disandera dogma primitif. Tuhan melampaui segala Nabi dan segala Nobel laureate. Tuhan di atas Ptolemeus Galelio dan Copernicis. Joshua menghentikan matahari harus tunduk paradigma heliosentris bukan Geosentris. (cmk)