Berikut adalah artikel online “Mimpi Koalisi Nasionalis-Santri. Seberapa Peluangnya?” yang ditulis oleh Siswanto Cemonk di portal Watyutink tertanggal 19 Februai 2018.

Ilustrasi Foto: Muid-Oggy/watyutink.com

Pemilihan presiden (Pilpres) masih tahun depan digelar, tapi suhu politik di tanah air sudah mulai memperbincangkan bursa cawapres pendamping Jokowi. Meski belum menentukan siapa bakal calon pendampingnya, sepertinya Jokowi sedang melakukan test the water untuk mencari calon dari kalangan santri.

Indikasi itu terlihat ketika Presiden Jokowi didampingi menggandeng dua pentolan parpol berbasis Islam dalam beberapa kegiatan. Mereka adalah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy (Romi) dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Selain ketua umum partai masing-masing, Romi dan Cak Imin dianggap sama-sama mewakili kaum Nahdliyin (baca: kalangan santri), yang oleh banyak pengamat disebut sebagai titik terlemah Jokowi. Selama ini Jokowi dianggap kurang dekat dengan kalangan santri dan pesantren, serta selalu dikaitkan dengan isu komunis. Kedua aspek inilah yang kemudian merontokkan elektabilitas Jokowi. Harus diakui, aspek religiusitas masih menjadi aspek yang akan selalu terarah ke Jokowi dan acap kali sukses menggerus elektabilitas si petahana.

Koalisi nasionalis-santri dalam Pemilu dan Pilpres bukan hal baru. Megawati telah melakukan hal ini ketika dia berkuasa. Saat menjadi menggantikan Gus Dur yang diberhentikan menjadi Presiden oleh MPR di 2001, Mega mengandeng Hamzah sebagai wakilnya.

Dianggap berhasil, koalisi nasionalis-santri ini kemudian dilanjutkan Mega di Pilpres 2004 dengan menggandeng Ketua Umum PBNU (kala itu) Almarhum KH Hasyim Muzadi. Tetapi meski dominan di survei, koalisi nasionalis-santri kalah menghadapi teori “playing victim”, sehingga SBY-JK yang terpilih sebagai presiden-wapres..

Menarik mencermati kegiatan Jokowi akhir-akhir ini yang mengajak Cak Imin dan Romi mendampinginya di berbagai kegiatan. Terlebih, akhir-akhir ini pun Jokowi terlihat menggunakan peci. Apakah ini salah satu upaya untuk mendekatkan diri ke kalangan santri?

Bukan tidak mungkin Jokowi akan melanjutkan mimpi menggabungkan kekuatan nasionalis-santri di Pemilu 2019 mendatang. Tetapi bagaimana dengan partai-partai “tengah” yang sudah lebih dulu mendekralasikan Jokowi sebagai Capres, seperti Golkar, NasDem, Hanura dan PKPI? Logikanya, partai-partai ini tentu berharap ketua umumnya maupun kadernya dipinang Jokowi di Pilpres nanti.

Lihat saja, spanduk bergambar  Jokowi bersanding dengan Surya Paloh sudah bertebaran di berbagai kota di seluruh Indonesia. Kabarnya pula, Golkar, Hanura, dan PKPI tengah menggodok nama-nama yang akan diajukan menjadi pendamping Jokowi. Apakah mereka tidak merasa ‘ditelikung’ dengan munculnya nama Cak Imin dan Romi di bursa cawapres Jokowi dengan memanfaatkan besarnya potensi suara santri? Atau, jika benar nanti Jokowi menggandeng santri sebagai cawapres, kader dari partai koalisi yang mana? Sebab, di semua partai koalisi selalu ada kader partai yang juga santri.

Pertanyaan lebih jauh, apakah jika Cak Imin dan Romi yang dipinang, atau santri lain dari partai koalisi, akan menjamin elektablitas Jokowi terkerek naik? Jangan-jangan nasibnya sama dengan koalisi Mega-Hasyim yang justru kalah.

Bagaimana pula dengan kemungkinan PKS merapat ke Jokowi? Saat ini PKS mengaku sudah menyiapkan sembilan nama kader yang, diharapkan, bakal dilirik oleh Jokowi.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

Opini Bapak Christianto Wibisono terkait artikel di atas:

‘Hok Gi’e atau ‘Sawab’ Cawapres RI-AS-Malaysia

Semua orang berebut jadi cawapres, tidak berani menantang jadi capres.  Cak Romy itu cucu Menag ke-7, KH Wahib Wahab, sedang Cak Imin itu masih kerabat dinasti Gus Dur, yang juga terkait menteri sejak zaman KH Wahid Hasyim.

NU jadi “faktor” dalam politik RI sejak resmi jadi parpol 1953 untuk ikut kabinet Ali Sastroamijoyo I, yang tidak berkoalisi dengan Masyumi, untuk merangkul umat Islam. Maka NU sejak berdiri 1926 hingga 1952 tidak jadi parpol dan anggotanya menyalurkan aspirasi melalui partai Masyumi. Setlah jadi parpol, NU melejit pada pemilu 1955 sebagai juara ke-3 (di bawah PNI dan Masyumi), disusul PKI sebagai 4 besar.

Sejak itu, NU kemudian survive dan ikut kabinet terus-menerus tanpa absen. Setelah NU kembali ke khittah dan PPP yang bergerak, maka tokoh-tokoh eks NU tetap berkiprah dan bersaing dengan eks Masyumi. Namun, Masyumi dibubarkan 1960 karena terlibat PRRI-Permesta, dan sempat muncul sebagai Parmusi dalam pemilu 1971, yang kemudian dilebur dalam PPP tahun 1973.

Hamzah Haz tokoh PPP bahkan berhasil jadi Wapres ke-9 dari Presiden ke-5, yang masih dipilih melalui konspirasi elite MPR hasil pemilu 1999. Satu-satunya wapres yang berhasil jadi presiden adalah BJ Habibie. Hal ini justru mengakibatkan “jotakan” (tidak diajak bicara) oleh Presiden Soeharto yang merasa telah ditikam oleh Brutus Ken Arok penggantinya sendiri.

Dari 48 Wapres AS, hanya 14 wapres yang bisa jadi presiden (9 karena wafat atau tewasnya presiden dan 5 orang sukses melaui pemilu). Jumlah Presiden AS hanya 44 meskipun periodenya sampai 45, karena Presiden ke-24, Grover Cleveland  (1892-1896) adalah presiden ke-22 (1884-1888), yang terpilih lagi setelah diseling oleh presiden ke-23, Benjamin Harrison (1888-1892). Presiden ke-5 AS John Quincy Adams (1824-1828 ) adalah putra Presiden ke-2, John Adams (1796-1800). Presiden Bush Sr (ke-41) dan Jr (ke-43) hanya diseling oleh Presiden ke-42, Bill Clinton (2 periode).

Malaysia punya 6 PM dan suksesinya penuh konspirasi. Waperdam pertama Tun Razak mengkudeta PM I Tengku Abdulrahman. Razak wafat diganti iparnya Hussein Onn, kemudian diganti Mahathir sebagai PM terlama (22 tahun). Mahathir menggonta-ganti Waperdam dari Musa Hitam ke Ghafar Baba, lalu Anwar Ibrahim. Krismon1998 membuat Mahathir memecat Anwar Ibrahim dan mengangkat Badawi kemudian Najib Razak, putra PM ke-2. Sekarang Mahathir usia 92 tahun, mau come-back merangkap istri Anwar Ibrahim sebagai duet untuk pemilu ke-14 Malaysia.

Kembali ke Cak Romy dan Cak Imin, Indonesia ini faktor “hok gie” ternyata luar biasa berperanan. Bisa juga jatuh bangun seperti Jusuf Kalla, yang menjadi satu satunya orang Indonesia yang bisa jadi “Lazarus” politik, sudah masuk kotak bisa naik panggung lagi. Jadi wapres ke-10 dan ke-12 diseling wapres ke-11 Boediono. Nah siapa wapres ke-13 RI? Angka 13 itu bisa jadi angka sial, tapi bisa juga jadi angka “hok gie”. Apalah JK punya kans diangkat lagi jadi Wapres, sehingga bisa dapat rekor MURI?

Jokowi adalah presiden ke-7 yang ajaib melompat langsung dari wali kota ke gubernur tanpa melalui jenjang nasional (menteri kabinet). Tapi, langsung penantang kursi presiden dari kursi gubernur. Jadi, ini memang terobosan luar biasa.

Kalau kinerja ekonominya luar biasa, Jokowi mesti tidak perlu takut untuk mengangkat Sri Mulyani sebagai wapres. Tapi kalau memang faktor SARA masih dipakai di mana-mana, bahkan di AS pun Trump menang karena populisme kanan, ya barangkali memang dikotomi syariah-sekular yang masih jadi ganjalan politik nasional kita.

Hal inilah yang mengharuskan Jokowi memilih elite dari sektor “syariah”, karena Jokowi dikategorikan “sekular”. Ya, apa boleh buat, Indonesia bukan planet Mars. Dikotomi syariah-sekuler adalah bagian dari perjalanan sejarah global, yang sampai detik inipun masih kental terasa di pelbagai wilayah dunia.

Ideologi radikalisme dan terorisme ISIS, serta konflik peradaban Huntington tidak bisa kita tutup dengan tembok. Ideologi itu merembes masuk Indonesia dan ikut berperanan dalam menciptakan faktor disintegrasi nasional. Karena itu memang elite kita harus mengharamkan “konflik berbasis sara”, jika kita mau eksis, survive, dan melejit jadi superpower dunia pada abad 2045.

Kalau kita berkonspirasi terus model Mahathir Anwar, maka kita tidak akan kemana-mana, barangkali terpuruk cuma jadi Malaysia yang obese (kegembrotan). (cmk)