Berikut adalah artikel online “Tentang Zulkifli Hasan dan LGBT” yang ditulis oleh Siswanto Cemonk di portal Watyutink tertanggal 23 Januari 2018.

Sumber Foto: liputan6news.com

Pernyataan Ketua MPR Zulkifli Hasan, soal sikap fraksi di DPR terkait LGBT langsung jadi trending topic di dunia maya. Terlepas pernyataan yang disampaikan Zulkfli itu kurang tepat atau salah ucap dan salah kutip, sebagai ketua lembaga tertinggi negara seharusnya ekstra hati-hati dalam menyampaikan segala sesuatu yang masih belum valid. Karena pernyataan yang tak didasari bukti yang valid akan menimbulkan reaksi bak bumerang. Apalagi isu yang disampaikan sangat sensitif.

Dalam pernyataan akhir pekan lalu, Zulkifli menyebut ada lima fraksi di DPR RI yang menyetujui perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) berkembang di Indonesia. Namun, Zulkifli tak menyebutkan nama-nama partai politik dan fraksi mendukung LGBT tersebut.

Pernyataan kontroversi ini mendapatkan kecaman sejumlah kalangan DPR. Bahkan Ketua DPR Bambang Soesatyo angkat bicara terkait hal ini. Dia menilai pernyataan Zulkifli kurang tepat dan diragukan kebenarannya karena saat ini tidak ada pembahasan RUU khusus LGBT. Yang ada malah pembahasan pasal RUU KUHP di komisi III terkait pemidanaan hubungan sesama jenis.

Kecaman yang sama juga dilontarkan Ketua DPP PDIP Arteria Dahlan yang mengatakan pernyataan Zulkifli ceroboh dan tidak didukung dengan data yang valid. Bahkan, untuk menyebut lima fraksi yang mendukung LGBT saja Zulkifli tak berani.

Yang menarik dan menjadi catatan, bukannya terlalu riskan kalau partai atau fraksi mau berkompromi dengan pelegalan LGBT, mengingat tahun ini tahun politik dimana setiap partai berlomba-lomba membangun pencitraan untuk mendulang suara pada 2019 nanti. Kalau pun ada individu di DPR yang menganut paham yang dimaksud tersebut. Rasanya tidak akan berani mengungkapkan atas nama pribadi, partai apalagi fraksi. Itu adalah aib. Tentu saja akan membunuh keberadaan dan kepentingan partai dalam sekejap.

Belakangan pernyataan ini dibantah Zulkifli sendiri dengan menyatakan, sudah ada lima fraksi di DPR yang menolak adanya LGBT. Ini titik masalahnya, apa sih motivasi Zulkifli melontarkan statemen tidak berdasar yang belakangan dibantah dia sendiri? Apa ingin menaikkan popularitas pribadi? Apakah ingin membangun kesan bahwa PAN sebagai Partai Islam modernis yang berakar pada Muhammadiyah konsisten ingin menegakkan nilai-nilai moral dan agama Islam? Kalau itu tujuannya, rasanya itu blunder sebab dia melontarkan tuduhan tanpa bukti. Isu anti LGBT diasosiasikan dengan Islam pun kurang populer.

Kalau memang niatnya untuk menjaring simpati di 2019, bukankah PAN yang banyak diisi akademisi dan intelektual Islam mengapa tidak mengusung isu-isu kemanusiaan universal seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi umat, dan lain-lain? Kecuali jika Zulkifli Hasan yang menyatakan mendukung Jokowi memang ingin membonsai perolehan suara PAN yang masih sangat terkooptasi Amien Rais, sang pendiri partai yang tegas beroposisi terhadap Jokowi.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(cmk)

Opini Bapak Christianto Wibisono terkait artikel di atas:

Elite Geopolitik atau Tetek Bengek?

Elite cerahkan massa atau tunggangi massa? Elite bisa jadi  pencerah dan bikin terobosan mendamaikan seperti  ketika Anwar Sadat rela datang ke Knesset (DPR) Israel dan meneken perdamaian dengan Menachem Begin. Daud Beureuh satu dari 3 tokoh DI yang rekonsiliasi dan wafat  dalam damai. Kahar Muzakkar tertembak dalam operasi, sedang Kartosuwiryo dieksekusi. PM Rabin jadi korban ektremis Yahudi karena berani teken perdamaian Oslo dengan Arafat. Sayang waktu itu Soeharto sebagai ketua GNB (Gerakan Non-Blok) sudah disowani Rabin di Cendana kurang  berani menjadikan Jakarta tuan rumah perdamaian Rabin-Arafat.

Saya malas mengomentari isu  LGBT terlalu kecil untuk kelas negarawan. Ketua MPR yang terjebak bukan jadi pencerah massa kelas negarawan atau jadi agitator massa kelas ormas lokal. Ketua DPR justru tegas tidak ada isu itu. Case closed, jangan diperpanjang urus tetek bengek LGBT. Masih banyak  kerjaan raksasa geopolitik yang harus diprioritaskan bukan mengeksploitasi massa urus tetek bengek LGBT. Korea saja sudah bersatu  di Pyeongcang Winter Olympic. Kok kita masih ribut tetek bengek LGBT.

(cmk)