Pada hari Selasa, tanggal 12 Mei 1998 pagi hingga pukul 14.00 WIB saya mengikuti seminar ekonomi di Untar dan ikut menyaksikan mahasiswa berkumpul di Universitas Trisakti. Polisi memagari jl. S. Parman sebagai upaya pencegahan demo kemudian bergerak ke arah timur selatan (areal gedung MPR DPR di Senayan). Sore itu, saya mengikuti rapat di Balai Kota dengan gubernur Bang Yos tentang tata kota, tapi rapat dihentikan setelah melihat berita Liputan 6 SCTV yang memperlihatkan adegan penembakan mahasiswa yang telah mundur masuk ke areal kampus. Jadi mahasiswa ditembaki di kampus, bukan dalam posisi ofensif “menyerang” target gedung MPR/DPR. Diberitakan bahwa satuan polisilah yang menembak sehingga menewaskan 4 mahasiswa dan polisi ybs. telah diadhili dan divonis.

Rabu, 13 Mei 1998, saya tidak beranjak dari kantor PDBI karena jalanan dipenuhi massa dan masyarakat yang terjebak macet karena angkutan umum lumpuh dan terjadi pembakaran di sana-sini. Jam 17.00 WIB, anak perempuan saya yang tinggal di jl. Camar Permai kompleks Pantai Indah Kapuk menelefon bahwa dia telah diminta oleh satpam untuki mengungsi ke Golf Course (yang waktu itu belum semewah sekarang, masih “semi bedeng”). Karena situasi semakin merawan, dan ada satu bayi perempuan (lahir 1996) dan bayi laki-laki yang baru lahir 23 Maret tahun itu (usia 51 hari), maka saya memerintahkan anak perempuan saya untuk mengungsi saja ke kediaman saya di Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Maka, dengan menaiki mobil kijang, anak saya sekeluarga dan dua pengasuh sampai ke rumah di jl. Kartini dengan selamat.

Kamis, 14 Mei 1998 , menurut jadwal saya seharusnya memberikan ceramah di seminar ekonomi Mabes ABRI Cilangkap, tapi saya menjelaskan via telefon ke Mabes ABRI bahwa saya tidak bisa keluar disebabkan situasi lalu lintas jalanan tertutup oleh massa. Namun, dari atap rukan 3 tingkat di jl. Kartini saya bisa melihat massa bergerak dari Mangga Besar ke Gunung Sahari, di seberang sungai Tjiliwung menuju rumah Liem Sioe Liong di Gunung Sahari 6 yang tembus ke jl. Angkasa.

Jumat, 15 Mei 1998, supir yang dikirim ke Pantai Indah Kapuk menemukan rumah anak saya sudah terbakar habis (1 dari 80 rumah yang dibakar) dan 500 rumah lainnya dijarah massa. Keluarga saya trauma mendengar penghuni yang mengungsi ke Golf Course tidak cukup makan minum selama kurang-lebih 48 jam sejak 13 Mei 1998 petang hingga Jumat. Mobil Corolla di garasi juga dihancurkan.

Keluarga saya masih bertahan di Jakarta sampai datang surat kaleng ancaman pembunuhan keji yang penuh nada rasis fasis inhuman sadis dan saya memutuskan enough is enough. Akhirnya, saya mengirim cucu saya ke AS pada tanggal 11 Juni 1998. Hingga detik ini sudah 20 tahun tidak ada yang bertanggung jawab atau “diadli” atas pembakaran dan penjarahan atas insiden The Rape of Jakarta Mei 1998 itu. Indonesia berhutang kepada sejarah kemanusiaan untuk tuntas jadi bangsa yang “magnanimous”. Sejarah 1998 tetap jadi misteri dan menyedihkan bila sekarang, setelah 20 tahun terjadi tragedi Mako Brimob.

FOTO:TEMPO/Maria Fransisca Lahur

Semoga Tuhan memberi kesempatan bangsa ini untuk bertobat dan berdamai dengan diri sendiri dan bukan melakukan politik bunuh diri baik melalui Tragedi Teror Mei 1998 maupun Mei 2018. Semoga Tuhan memberkati dan menyelamatkan bangsa Indonesia yang bertobat dan berkenan di-hadiratNya.

Jakarta, 12 Mei 2018,

Christianto Wibisono

Ketua Pendiri PDBI