Eros Djarot menulis tajam Impor Gandung Dari dan Untuk Siapa? Bayangkan saja, pada tahun 1968 Indonesia hanya mengimpor tepung terigu dengan jumlah relatif kecil, 390,000 ton. Pada tahun 1990 impor gandum telah mencapai 1,7 juta ton. Tahun 2010 naik menjadi 5,0 juta ton; dan pada tahun 2017 yang lalu impor gandum telah mencapai angka 11,5 juta ton. Sungguh suatu peningkatan jumlah yang sangat fantastis.

Secara nilai, impor gandum telah mencapai 2,65 miliar dolar AS pada tahun 2017. Jika dikonversi ke rupiah dengan asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS, maka devisa yang terkuras untuk mengimpor satu komoditas saja sebesar Rp39,75 triliun. Secara kebetulan mungkin telepati, Frankie Welirang menjawab pertanyaan wartawan Tempo 12-18 Nov 2018 di halaman 97. “Selama ini bibit disubsidi oleh pemerintah. Tapi mengapa rara produksi beras kita hanya 4,5 ton per ha? Bibit apa yang disubsidi ? Mengapa petani tidak diberi bibit bisa memproduksi beras 10 ton per ha, padahal ada? Kalau petani bercocok tanam dengan bibit yang bisa memproduksi beras lebih tinggi, dia akan lebih sejahtera. Terus tanya jawab menyinggung juga soal data perberasan yang diakui berbeda dan salah sudah puluhan tahun. Jadi selama ini ternyata kita memproteksi data produksi dan proteksi yang salah dan kemudia di proteksi berkelanjutan menimbulkan inefisiensi nasional milenial rekor angka ICOR paling tidak efisien sedunia 6,4. Menurut saya ini adalah gaya sontoloyo dan genderuwo yang harus segera dimusnahkan dan dilenyapkan dari muka bumi dengan trobosan dan gebrakan Unicorn politik, pembaharuan struktur, kultur perilaku partai politik setara dengan munculnya fenomena unicorn – succesfull start up dibidang politik .

Diharapkan partai politik di Indonesia yang telanjur dihuni oleh partai penerus rezim dan sistem serta budaya politik Orde Lama dan Ordfe Baru melakukan terobosan unicorn politik, perilaku , budaya, kultur dan sistem politk unicorn yang bersih dari korupsi, dan tidak membebani masyarakat dengan rente birokrasi politik ekonomi tinggi. Presiden berpidato khusus dalam acara 4 tahun PSI Partai Solidaritas Indonesia yang diharapkan menjadi partai generasi muda milenial yang menjadi ujung tombak dan pelopor pejuang anti korupsi di Indonesia setelah 20 tahun Reformasi. Membaca data Eros Djator dan tangkisan Frankie Welirang tentang bagaimana elite kita mengambil putusan berdasarkan data yang salah, lalu membuat kebijakan yang juga salahkarena sulit dimengerti kenapa subsidi bibit yang in efisien kalau ada bibi tyang lebih produktif kok malah kasih bibitpetani yang tidak efisien.

Sumber: Tirto.id

Sumber: Tirto.id

Bantuan gandum dibuka sejak Orde Baru kepada Presiden Soeharto yang menunjuk Salim Group sebagai pelaksana. Maka jadilah Salim Group menjadi raja terigu seperti ketika seabad sebelumnya rezim Gubernur Jendral Hindia Belanda membuka lahan pertanian dan perkebunan tebu melahirkan konglomerat pertama Asia Tenggara Oei Tiong Ham Concern. Bung Karno akan menyita OTHC tahun 1963 jadi BUMN Rajawali Nusantra Indonesia, tapi tidak pernah bangkit jadi konglomerat raksasa Asia Tenggara. Lenyap tak berbekas. Sedang Salim Group menghadapi gelombang tsunami krismon 1997 kehilangan pabrik semen mereka, tapi bertahan dengan imperium bisnis gandum terigu yang merupakan salah satu yang terbesar sedunia. Sementara elite saling pidato populis dengan data yang seenak subyektif mereka dari pelbagaikementerian lembaga tidak becus memperoleh data akurat, maka rakyat hidup terus dimani[pulasi oleh data serampangan danputusan politik sontoloyo model gendruwo baik di DPR, di eksekustif maupun di masyarakat.

Presiden terpilih Brazil meskipun dari partai Kanan, tetap memakai slogan populis Lula (yang Buruh dan Kiri) bahwa Brazil tidak mau kalau cuma jadi satpam pengawal hutan. Kalau dunia butuh hutan sebagai paru paru dan warisan ummat manusia, maka dunia harus “menyediakan dana’ untuk pemilik lahan hutan tropis dunia seperti Amazon (Brazil) Indfonesia dan Congo Afrika. 3 kawasan tropis ini tentu juga mau menikmari hutan sebagai asset untuk industri hasil hutan sebagai raja minyak, raja kertas raja produksisumber daya hutan yang kreatif .Nah dalam hal ini negara berkembang seperti Brazil dan Indonesia, tentu tidak boleh di kejar kejar sebagai satpam lingkungan yang tidak boleh menggarap hutannya secara produktif. Seluruh Irian mungkin harus bisa dibangun jadi pusat pangan, padi , gantum hortikultura. dengan bibit yang efisien seperti temuan Frankie Welirang tadi. Tentunya imperium Salim juga harus rela membangun imperium pangan yang efisien berdaya saing global dan bukan melanjutkan kesalahan data dan kebijakan subsidi bibit yang salah kaprah sehingga melahirkan inefisiensi berkelanjutan. Mudah mudahan polemik Eros Djarot Franki Welirang ini bisa menuju jalan keluar sepakat menurunkan ICOR 6,4 agar kita bisa bersaing dengan negara lain dan Indonesia kembali pada kejayaan Hindia Belanda Nusantara ketika menjadi raja 10 komoditi dari gula, kopi, karet, kina , kopra, beras, gandumg, uni dst dsb. Semua untuk sebesar besar kemakmuran rakyat yang hidup ber ko eksistensi dengan konglomerat apakah itu OTHC atau Salim Group tapi dengan masyarakat petani, pekebun yang menikmati kekayaan sumber dalam alam Indonesia Inc yang dirasakan semua pihak. Inilah Unicorn politik yang di idamkan oleh Presiden ke-7 untuk term ke 2 kepresidennya melalui keterpilihan pada pilpres dan piler 17 April 2019.