Dimuat di situs Kompasiana, “WIBK 10 -Jokowi 2.0 via Jalur Macron 2.0” dituliskan Oleh Christianto Wibisono – Redaktur politik Harian Kami 1966-1970 Pendiri dan direktur TEMPO 1970-1974 Pendiri Pusat Data Business Indonesia 1980-2000 Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia 2012.

google via Berdikari Online

Hari Minggu 8 April 2018 perdebatan politik bergeser ke pertemuan 4 mata Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Prabowo Subianto di Sumire Restaurant Grand Hyatt Hotel yang kemudian disiarkan sebagai langkah usulan dorongan Luhut kepada Prabowo untuk segera maju ke pilpres 2019. Tentu saja ini merespon kekawatirsan orang kalau tidak ada calon yang mampu muncul termasuk Gerindra karena tidak ada satu partaipun yang lolos Presidensial Threshold 20%.

Saya bersama Bung Karno brunch di areal dekat Sumire melanjutkan diskusi Saptu tentang 100 orang berpengaruh pilihan Michaek Hart.  CW: Slmt siang pak, menko Luhut ungkap isi pembicaran dengan Prabowo, mendukung Prabowo nyapres untuk menghindari calon tunggal lawan kotak kosong seperti pemilihan lurah kepala desa. Bagaimana di dunia abad XXI milenum ketiga saat orang sudah bicara dunia dan manusia tahun 3000 kita masih disandra oleh aturan pilpres yang primitif  model lurah lawan kotak kosong.

BK: Sebetulnya memang  kita mesti malu ya punya negara yang dikaruniai orang orang hebat dan sumber daya alam yang juga berlimpah, tapi tidak ada konsensus meritokrasi, yang ada dan dominan ialah Kabilisme, kecemburuan, dengki, iri yang berkolusi jadi kebendian  untuk menang secara zero sumgame.

Padahal dalam politik ya mestinya dimungkinkan,  alternatif  Ada incumbent, ada oposisi lalu bergliran berkuasa, secara ksatria bila memang dalam pemilu dan digntikan oleh opossisi bila mampu menawarkan alternatif,  Tapi karena Indonesia ini sudah 40 tahun dalam rezim monolit, Orla dan Orba, maka sulit bagi Orde Reformasi untuk mentas tuntas dengan sistem presidensila dwipartai yang proefisien, pro aktif dan efektif. Karena itu mengejutkan bahwa tidak ada tokoh riil Indonesia yang masuk dalam The 100 Hart 1992 maupun The Year 3000 ranking (50 fiktif dan 50 real) ) edisi tahun 1999.

CW: Pak apa relevan buku Hart dengan demam pilpres 2019 sekarang ?

BK: Sekarang ini semua berita lintas benua langsung diterima real time diseluruh penjuru bumi. Mantan Presiden Brazil Lula akan segera dibui 12 tahun penjara meski sempat ngotot mau mencalonkan diri lagi untuk ketiga kalinya. Jendral Asisi Mesir menang mutlak dalam Pilpres Mesir berpola Orba dan Putin juga akan memegang rekor presiden/PM terlama di Rusia pasca komunisme bangkrut 1991.

Bulan April ini Malaysia akan mengadakan pemiluke 14 yangkrusial bila oposisi bisa menjatuhkan koalisis petahana yang sudah berkuasa sejak merdeka 1957 atau 61 tahun tanpa putus. Kali ini mantan PM yang sudah sepuh berkoalisi dengna bekas waperdam yang dibui untuk menjatuhkan PM petahana. Malaysia ini contoh ambu adul politik tanpa prrinsip kecuali untuk merebut tahta saja.Barangkann orang yang ditutuh sodomi sekarang berkoalisi dan orang yang memfintah sodomi untuk merebut kursi PM. Mahathir  memecat Anwar Ibrahim atas tuduhan sodomi, sebab kalau tuduhan korupsi sudah “basi: maka perlu tuduhan aneh sodomi untk menjebloskan waperdam Anwar Ibrahim ke penjara 1998.

Sekarang Mahathir merangkul Wan Azizah  (istri Anwar Ibrahim) sebagai  duet untuk menjadi waperdam mendampingi Mahathir, karena Anwar masih belum selesai menjalani pidana penjaranya. Arsitek dari kolusi ini adalah tokoh opositi DAP Lim Kit Siang yang menjadi comblang dua kubu Mahathir Anwar menghadapi PM petahana Najib Razak. Di Malaysia politik masih sangt kental sara antara keturunan Tionghoa ,Melayu dan India.

Koalisi dan kolusi antar etnis yang juga dipengaruhi oleh teori Huntington global, sangat melemahkan Malaysia  yang mirip dengan Indonesia seri8ng mengalami inside rasial dan uniknya selalu terjadi pada bulan Mei.  Dizaman say aduku 10 Mei 1963 terjadi insiden rasial di Bandung yang memakan korban drs Yap Tjwan Bing anggota PPKI hingga hijrah ke Los Angeles karena kecewa putraya dipukuli serta mobild an rumahnya dirusak di Bandung.

Malaysia dilanda kerusuhan rasial13 Mei 1969 yang dijadikan “benchmark” untuk menakuti golongan Tionghoa bahwa pembantian seperti di Kualalumpur 1969 akan terujlang bila golongan Tionghoa memaksakan menolak dominasi dan hegemoni bumiputera Melayu.  Sejak 1969 memang berlaku New Economic Policy, affirmative action memberi privilege, prioritas, fasilitas untuk bumiputera dalam bersaing bisnis dengan [engusaha Tionghoa, Tapi setelah 30 tahun seharusnya diskrimiansi itu dihentikan dengan kompetisi bebas tanpa proteksi sara, tapi itulah yang terjadi hingga detik ini di Malaysia.

CW: Wah itu diulas satu semester juga tidak selesai pak ini kita kembali ke Jokowi 2.0 mengatasi kemungkinan pilpres rasa lurah desa bagaimana jalan keluar dan skenarionya.

BK: Algoritma Big Data adalah ulasan yang ditulis Dahlan Iskan tentang pemilu di AS yang memenangkan Trump atas Hillary. Sekarang ini yang sangt berbahaya memang ideologi yang cair dan pragmatis, yang kemudian bisa gonta ganti baju tapi mobilisasi populismenya bisa terjadi secara identik meski spektrum ideologinya bisa berbeda dari ekstrem kiri sampai kanan.

Jadi ideologi kiri leftist yang sangat anti neilib di AS dan Eropa yang kadang kadang membingungkan karena tidak jelas mau berjuang untuk siapa, sebab ab strak sekali. Ideologi populis kiri itu di Eropa dan AS memang masi hkuat sebagai wadah pembela buruh, LSM, mengimbangi korporasi bisnis.  Tapi di kelompok kanan juga terjadi mobiklisasi oleh Trump melawan arus kontra peradaban yang diidentifikasi sebagai imigran dari peradaban lain yang mengancam eksistensi survivalnya peradaban Barat pra era koflik peradaban. Trump menang dari populisme kanan.  Nah kemenangan pilkada DKI 2017 merupakan analogi kemenangan Trump  ini yang sangat mengkawatirkan bila populisme kanan model Trump diterapkan di pilpres 2018.

Tidak ada jalan lain bagi Presiden Jokowi bahwa dia harus  memberdayakan partai dan relavan pendukungnya untuk jadi Macron 2..0 mengulangi kisah sukses Macron yang berhasil membendung kemenangan Trump 2.0 di Prancis yang waktu itu sudah sangat meroket kapabilitasnya dibawah pimpin Marie Le Pen, putri pendiri partai kanan Prancis Le Pen. Di Indonesia, koalisi kanan agama dan ambisi militerisme untuk terus menikmati kekuasaan bisa terkonsilidasi pada koalisi Prabowo Anies atau Anies Gatot  melawan petahana Jokowi -siapa saja.

Algoritma Big Data yang dikawatirkan Dahlan Iskan memang bisa terjadi bila segala macam ketidakpuasan ekoomi, sosial, politik dan SARA, diaduk jadi satu dalam adonan kental model populisme kanan Trumpisme. Masalah utama Jokowi adalah bagaimana mendeliver kinerja ekonomi sambil tetap memelihara kohesi sosial masyarakat modern meritokratis sekuler dari ancaman jatuhnya negara ditangan konservatisme populisme kanan berbasis otoritarian religi.

Emmanuel Macron – google via BBC

CW: Waduh terlalu ideologis teoretis itu pak. Apa resep untuk barisan relawan generasi milenial memenangkan Jokowi 2.0?

BK: Mestinya relasi Jokowi MBS harus dimanfaatkan untuk mencegah Trumpisme syariah  mengambil alih Merdeka Utara.  Jeddah sudah membuka casino dan kerjasama ekonomi Saudi Israel sudah dilaksanakan seccara terbuka formal dan bermartabat diplomasi bilateral normal. Sebetulnya tidak ada alasan lagi untuk tetap bersikap defensif terhadap gejala Trumpisme populisme kanan otoritarian religi,  Indonesia ini perlu Meritokrat yang mampu melanjutkan pembangunan ekonomi secara konsisten agar kita mentas dari the middle income trap.  Partai pendukung Jokowi 2.0 harus jadi Macron 2.0 kalau tidak mau digilas oleh Trump 2.0 di Indonesia.

Bersih dan profesional. Deliver dan berkinerja serta menghargai rakyat sebagai mitra kelas menengah , bukan hanya jadi ” pendukung yang diperalat” . Warga pembayar pajak yang taat dan berkontribusi seharusnya menjadi tulang punggung partai Macron 2.0 Coba di tanya anggota partai dan caleg itu sudah bayar pajak berapa .  Yang membayar pajak tidak perlu malu dan takut mengumumkan dan mengklaim bahwa negara ini dibeayai oleh pembayar pajak yang taat.  Jangan sampai demagog malah menguasai negara dan memperlaikukan kelas menengah sebagai sapi perah dan ekonomi terhambat karena tidak ada arus investasi dalam persaingan glkobal yang semakin ketat menawarkan persyaratan yang business friendly.

CW: Mirip dengan trobosan bapak Deklarasi Ekonomi 1963 yang batal karena politicking PKI vs TNI.

BK: Ya kiita sesuaikan dengan tantangan zaman sekarang ini zaman populisme kanan harus direspond dengan tepat seperti Macron kalau tidka mau seluruh dunia dikuasai oleh populisme kanan Trump dan derivativenya di Indonesia. Sampai ketemu Senin 9 April.