“WIBK 11 –  ASEAN INC” dituliskan Oleh Christianto Wibisono – Redaktur politik Harian Kami 1966-1970 Pendiri dan direktur TEMPO 1970-1974 Pendiri Pusat Data Business Indonesia 1980-2000 Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia 2012.

google via Berdikari Online

Senin 9 April 2018 saya berada dalam pesawat GA 828 menuju Singapore untuk terapi pasca operasi lutut dengan DR Lo Ngai Nung di Camden Medical Center. Mendarat di Changi dan check in di Mandarin Orchard  saya bersama Bung Karno kemudian dinner di Top of the M, puncak Hotel Mandarin.

CW:  Para pembaca WIBK 10 kemarin ingin merespon cepat dan mempertnyakan kompleksitas sejarah konflik Malaysia Singapura dan Indonesia, bisa bapak memaparkan era konfrontasi dan dampaknya dalam perspekitf masa depan ASEAN Inc.

BK: Istilah ASEAN INC sebagai konsekuensi logis dari  Indonesia Inc yang terintegrasi dalam ASEAN Inc merupakan keniscayaan paralel dengan proyeksi optimistis think tank global bahwa Indonesia akan masuk 7 besar dalam satu generasi sekitar 2030 dst 2045-2050. Menelusuri riwayat sejarah 3 negara yang saling terkait dengan sejarah pemisahan karena dua negara kolonial yang berbeda menjajah kita selama 3 ½ abad meskipun tidak secara langsung tapi melalui VOC dan EIC selama 2 abad pertama hingga 1800an pasca Napoleon.

Perhatikan bahwa di abad ke XV itu bangsa bangsa non Eropa sebetulnya punya kemampuan defensif yang sempat melakukan perlawanan meskipun akhirnya Malaka jatuh ketangan Portugis pada 1511.   Pasukan Demak sempat menyerbu Malaka dan sekarang menjadi negara bagian Trengganu mengacu pada keturunan Sultan Trenggono adik Dipati Junus dari kerajaan Demak pengganti supremasi Majapahit yang bubar 1478 dan mengirim ekspedisi yang gagal merebut kembali Malaka. Sejak itu Portugal dan Spanyol sibuk membagi belahan bumi Barat, kemudian Inggris Perancis dan Belanda juga memperebutkan Asia dan Afrika. Di Asia Tenggara Inggris dan Prancis menghormati Thailand sebagai negara penyangga.Jadi Thaiand selamat tidak dijajak oleh salah satu negara Eropa sebab keduanya lebih senang Thailand merdeka sebagai “buffer antara India yang dikuasai Inggris  dan Indocina yang diduduki Prancis. Myanmar sudah ditangan Inggris karena itu Thailand harus jadi buffer agar yang satu Inggris  tidak menyerbu ke Timur Indochina dan yang lain dari Indo China menyerang ke Barat India. Sedang Inggris dan Belanda sudah sering melakuan ruislag yang selalu berakhir dengan “kerugian Belanda atau Indonesia”. Misalnya ruilslag p Banda dengan Manhattan New York 1667 dan kemudian Singapura ditukar dengan Bengkulu 1824. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sempat terlontas wawasan bahwa negara baru itu harus mencakup Malaya dan Kalimantan Utara juga. Tapi situasi geopolitik tidak memungkinkan sebab Belanda ngotot ingin menjajah kembali Indonesia. Malaysia menunggu 12 tahun setelah proklamasi Indonesia baru merdeka 31 Agustus 1957.  Federasi Malaysia dibentuk 1963 dengan mengintegrasikan Kalimantan Utara (Sabah dan Serawak) untuk mencegah mayoritas pendudukTionghoa bila yang bergabung hanya Malaya dan Singapura. 2 negara bagian Sabah dan Setawak merupakan bonus demografi untk mempertahankan mayoritas ditangan bumiputera. Konflik sara di Malaysia sebetulnya sama dengan di Indonesia bahkan lebih sengit karena golongan Tionghoa bukan minoritas karena jumlahnya saat pembentukan Malaysia hampir 40%.

google via Pinterest

CW: Malaysia selalu meniru apa saja yangdilakukan Indonesia for better or for worse. Belajar dari Indonesia bukan hanya yang positif termasuk yang diskriminatif.

BK: Ya itu resiko bertetangga terbuka dan berkonspirasi secara kurang etis untuk mendiskriminasi  sebagian masyarakat berbeda etnis tanpa mengakui faktor geopolitik yang seharusnya menjadi acuan ideologis mengukut patriotisme seseorang dari kinerja sosial ekonomi politiknya dan bukan dari faktor keturunan fisik biologis rasis etnis. Kemarin kita sudah meyinggung bagaimana konflik rasial di du a negara ini saling “menyontek”. Intrik dan konspirasi kudeta juga mewarnai suksesi politik di Malaysia. PM pertama Tengku Abdulrahman itu digulingkan oleh waperdam Tun Abdul Razak yang meledakkan kerusuhan rasial 13 Mei 1969. Kemudian Mahathir Muhamad menjadi PM ke 4 selama22 tahun dari 1981-2003 dan memecat Waperdam Anwar Ibrahim. Ia diganti olehPM ke 5 Abdullah Badawi dan PM ke-5 Najib Razak, putra PM ke-2 Tun Abdul Razak yang kakek moyangnya dari Bugis. Mahathir sempat memicu protes ketika mengritik Najib Razak sebagai turunan perompak Bugis.  Perhatikan bahwa setelah konfrontasi dengan Indonesia selesai pada 1967 dengan pembentukan ASEAN, justru di Malaysia terjadi kerusuhan rasial terdahsyat 13 Mei 1969.

CW: Dengan warisan diskriminasi rasial seperti itu, secara internal maupun secara bilateral antara Malaysia Singapura dan Indonesia Singapura, bagaimana ASEANbisa hidup rukun damai, bila ada api dalam sekam duri dalam daging dan cemburu dengki iri benci ala Kabilterhadap sesama “rumpun” dan komnutitas etnis yang berbeda origin nya.

BK: Ya harus belajar dari sejarah regional lain seperti Timur Tengah dan Balkan. Indonesia dan Asia Tenggara ini persis mirip Balkan jadi kalau tidak hati hati memang bisa “bubar”. Dibutuhkan kenegarawanan yangluarbiasa arif bijaksana untuk memelihara keutuhan regional dan membangun suatu United Asean Inc sehingga benar benar tangguh demografi dan geoekonomi maupun geopolitiknya.

Singapura itu pusat keuangan ketiga global setelah London dan New York. Asset valas dan deposito offshore di Singapura US$ 1,2 trilyun setara dengan International Banking Facility New York dan Japan Offshore Market.  Kalau dikatakan Singapura itu investor terbesar di Indonesia, itu kan dana global bukan sekedar lokal Singapura.

Sekarang Singapura sedang mengembangkan diri jadi pusat regional global untuk lembaga penelitian dengan market global bukan lagi sekedar hinterland Asia Tenggara. Sehingga kita sebagai saudara tua di ASEAN memang harus mampu memberdayakan dan ikut menikmati kemajuan Singapura dalam konteks kemajuan ASEAN secara simbiose mutualistis.

CW: Wah itu semuanya normatif dan muluk muluk luhur, tapi secara internasl saja masing masing negara masih konflik internal antara petahana dan oposisi karena mungkin hanya Indonesia saja yang sudah “full demokratik” yang lain masih dalam fase diktatur Orlaba, Orde lama simultan Orde Baru. Thailand bolak balik mengalami dwifungsi dan junta militer bahkan hingga saat ini. Jadi terlalu bernuansa “angin surga” atau wishful thinking yang bapak uraikan tadi.

BK: Ya kita harus punya kemauan untuk merencanakan kerjasama yang baik yang rukun yang saling menguntungkan dan yang memberdayakan ASEAN sebagai USA 2.0  atau mengalami “bubar” seperti yang ditakuti Prabowo ASEAN nya akan lenyap seperti Balkan Yugoslavia dan atau Uni Soviet. Jadi kalau mau bertobat mempelajari sejarah masa lalu, menghindari pengalaman pahit dan juga menolak impor atau mendaur ulang konflik kekerasan radikalis agama seperti yang terjadi di Timur Tengah, pasti ASEAN ini bakal maju dan hebat, Akan lucu sekali kalau Jeddah membuka casino, sedang Jakarta malah isu cadar jadi masalah to be or not to be suatu bangsa. MBS di Arab Saudi sedang total membuka Arab Saudi menjadi modern, Westernised, meritokratis, gender free discrimination, dengan 60.000 simulasi mengajar wanita menyetir mobil dan membuka hubungan bilateral ekonomi sosial kultural teknologi dengan Israel. Jangan sampai kita ini lebih Timteng dari Timeng. Dulu saya menolak Israel ikut Asian Games IV di Jakarta 1962. Akibatnya Indonesia diskors tidak boleh ikut Olympiade Tokyo 1964, tapi negara negara Arab tetap saja ikut bertanding di Tokyo  kita keleleran diluar stadion hanya ditemani oleh regu Kim Il Sung Korea Utara yang juga diskors karena konsisten ikut Ganefo, Olympiade  tandingan yang saya bikin 1963.

CW: Wah itu memang ekstrem sekali bahkan sampai keluar dari PBB mau bikin PBB tandingan Conefo tapi bubar karena kudeta 1965.

BK: Stop sampai disini terlalu panjang lebar kita bahas di WIBK selanjutnya.