Dimuat di situs Kompasiana, “WIBK 6 Heboh Puisi Sukmawati” dituliskan Oleh Christianto Wibisono – Redaktur politik Harian Kami 1966-1970 Pendiri dan direktur TEMPO 1970-1974 Pendiri Pusat Data Business Indonesia 1980-2000 Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia 2012.

google via Berdikari Online

Hari Selasa 3 April 2018 saya berada di Pelataran Ramayana bersama Bung Karno yang tampak agak hectic karena baru saja mengikuti pernyataan putra sulung Presiden pertama RI itu, Mas Tok alias Mohamad Guntur Sukarnoputra. Selengkapnya dari WA group Jokowinomics pernyataan itu berbunyi seperti berikut:

Keluarga Bung Karno Hidup Beragama Sesuai Syariat Islam

Keluarga besar Presiden Pertama RI,  Sukarno angkat bicara terkait puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri. Guntur Soekarnoputra memastikan seluruh keluarga Bung Karno sejak kecil dididik dan diajarkan keagamaan sesuai syariat Islam.

“Sebagai anak tertua, saya saksi hidup, bahwa seluruh anak Sukarno dididik oleh Bung Karno dan ibu Fatmawati Sukarno sesuai ajaran Islam” kata Guntur, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

“Kami diajarkan syariat Islam dan Bung Karnopun menjalankan semua rukun Islam termasuk menunaikan ibadah haji” tambahnya lagi.

Atas nama keluarga besar Bung Karno, Guntur menyesalkan kemunculan puisi Sukmawati yang dibacakan di gelaran Indonesia Fashion Week 2018. Saat itu digelar acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya.

Guntur memilih tidak mau mengomentari lebih jauh puisi adiknya itu. Tapi satu hal yang pasti, puisi yang dibuat Sukmawati sama sekali tidak terkait dengan pandangan dan sikap keluarga Bung Karno, mengenai ajaran agama Islam.

“Itu pendapat pribadi Sukmawati, tidak ada urusannya dengan pandangan dan sikap keluarga,” kata Guntur.

“Saya juga yakin puisi Sukma tersebut tidak mewakili sikap keimanannya sebagai seorang muslimah, dan saya ingin Sukma segera meluruskannya” tutup Mas Tok panggilan akrab Guntur Soekarno.

CW: Ikut prihatin dan peduli dengan “insiden” puisi yang memicu gelombang kritik medsos yang menjurus daur ulang insiden pidato P Seribu yang berbuntut pilub ter-SARA dalam sejarah RI. Mohon bapak dapat menenangkan dan menjernihkan masyarakat terkait heboh puisi ini.

BK: Puisi merupakan salah satu bagian dari ekspresi kritikal masyarakat terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi pada suatu kurun waktu.  Puisi merupakan bagian integral dari kebebasan berpikir dan berpendapat dalam sistem demokrasi modern yang beradab dan bertanggung jawab. Yang dilarang adalah menghasut dan menebarkan ujaran kebencian mengancam jiwa seseorang karena berbedapa pendapat, agama, idee dan pelbagai variasi  sifat karakter seseorang. Juga telah ada UU Anti diskriminasi untuk mencegah perangsaudara atas dasar SARA yang bisa berujung bubarnya negara seperti diperingatkan oleh capres Prabowo mengutip novel fiksi. Manusia Prabowo, Sukmawati, A Hok, Fadli Zon dan siapa saja tentu pernah dan bisa keseleo lidah yang bisa saja ditafsirkan kesengajaan oleh lawan politik. Tapi tentu tidak ada orang sengaja bunuh diri mengucapkan sesuatu secara implisit apalagi eksplisit justru melemahkan dirinya sendiri, menjadi “vulnerable” rawan diserang dan “diakhiri karir politiknya dengan pembunuhan karakter karena slip of the tongue seperti yang dialami A Hok.

Saya tidak perlu malu atau minder dan saya salut Mas Tok langsung menampaikan penjernihan dan pencerahan mengoreksi Sukmawati. Ini juga membuktikan bahwa “dinasti Suknaro” punya respon cepat bila terjadi sesuatu hal yang diluar rencana, telah mengakibatkan dampak kerawanan eksistensial bagi nation state Indonesia ini.

Sebetulnya saya sudah merasa capek melakukan seri WIBK ini karena semua hal sudah pernah dibahas sejak WIBK 1977 yang dibreidel Soeharto. Nothing new under the sun. Seluruh naskah WIBK 1977 yang dibreidel 1978 itu sudah merupakan sintesa dari suatu Master Plan, impian imajiner bahwa Indonesia akan bisa hidup seabad dan waktu itu sudah akan jadi nation state ke-4 dalam kualitas bukan hanya dalam kuantitas demografi.  Kita sudah bicara geopolitik, dwifungsi, ekonomi global, filsafat kemanusiaan . Setelah itu muncul seri WIBK di tabloid detik tahun 1990an yang dibreidel bersama Tempo 1994. Ketika itu Tempo membongkar pembelian kapal selam bekas Jerman Timur yang merupakan pemborosan keuangan negara. Kita telah memantau pemilu presiden 2014 dan terus hingga pilkada 2017 dan sekarang mengikuti perkembangan mutakhir pemilu 2018 dan pilpres 2019 serentak pileg yang tinggal setahun lagi pada 17 April 2019.

CW: Apa bapak mau menghentikan saja rangkaian WIBK ini cukup sampai disini saja, kalau toh memang semua sudah pernah diungkapkan dan tidk ada lagi yang bisa disampaikan ditengah kekerdilan elite Indonesia pasca “Buni Yani”.

BK: Sebetulnya bukan kerdil, semua elite itu pintar semu akaliber PhD dan entrepreneur mulai dari Fadli Zon sampai Setya Novanto. Semua itu sadar betul bahwa semu alangkahnya adalah ibarat main catur yang terkalkulasi. Jadi mereka bukan tidak tahu bahwa seluruh dunia itu perlu utang piutang dan tidak ada negara yang “autarki” AS tidak, Tiongkok tidaki dan kitapun tidak akan bisa autarkis meskipun saya berslogal Berdikari dulu dn sekarang diganti Mandiri. Setiap orang dan setiap nation state tidak ada yang bisa hidup sendiri termasuk Korea Utara dan atau Taliban. Juga tentang persaingan geopolitik AS Tiongkok semua orang juga tahu Tapi mereka dengan lihay menjual citra bahwa oposisi itu adalah “antek”: kubu yang satu sedang meraka adalah Pancasilais sejati. Padahal seperti kita telusuri dalam sejarah kita. Semua partai dan ideologi pernah menggunting uang dan tidak mampu mempertahnnkan nilai rupiah. Tidak peru diulang lagi Syafrudin Prawiranegara Masyumi 1950, Djuanda dan Notohamiprojo non partisan 1959, Sumarno dan Jusuf Muda Dalam keduanya tehnokat bankir menukar Rp. 1.000 uang lama jadi Rp. 1 uang baru mengakibatkan saya  lengser diganti Soeharto. Setelah 32 tahun Soeharto jgua lengser, karena Menkeu terlama sedunia 15 tahun Menkeu Ali Wardhana melakukan 3 x devaluasi, disusul ekonom Rotterdam Radius Prawiro juga 2 kali devauasi. Akhinya Soeharto  prototype rezim kanan junta militer akan jatuh jgua seperti nasib rezim Ekonomi Terpimpin Manipol Usdek. Ini kita sudah hafal luar kepala.Kedepan ini semua orangjustru percaya Indonesia bisa jatuh top 10 sedunia, malah lawan politik yang meragukan dan meniupkan Indonesia bisa bubar kalau terus dipimpin lawan politik.  Ya itu yang terjadi di Indonesia,tidak sportif, tidak ksatria menghargai meritokrasi, semua cuma dilandasi Kabilisme, benci cemburu dengki iri kenapa elite lain yangg  berkinerja optimal dan mereka sendiri (oposisi) hanya bisa mencari cari kesalahan dengan semangat sms . Senang melihat orang susah dan sedededih  melihat orang sukses.

CW: Baiklah Bapak kita menenangkan diri kita sendiri sambil melihat perkembangan bila ada sesuatu yang menarik dan signifikan untuk dikemtari kita paparkan lagi kepada pembaca. Tapi bila memang kondisi dan situasi sudah terlalu memuakkan untuk di komentari ya kita istirahatkan saja dulu seri WIBK ini.

BK: Betul kita terbang ke Washington DC dulu saja untuk memantau Spring Meeting World Bank IMFsebagai persiapan Sidang Tahunan di Bali Oktober yad . Apakah elite kita bisa menjadi Steering Committee yang mampu menyelesaikan Review XV, Transformasi Arsitektur Finansial Global mengubah struktur Bank Dunia /IMF yang bertumpa pada peta geopolitik dan geoekonomi 1945. Atau kita akan jadi salah satu arsitek Tata Ekonomi Dunia BAru dimana Indonesia naik kelas dari posisi voting power hanya 1% menjadi paling sedikit 3-5%. Saya tidak tahu elite Indonesia sadar atau tidak.

CW: Semoga doa bapak didengar dan kolom ini sempat dibaca oleh elite Indonesia.