Dimuat di situs Kompasiana, “WIBK 7, Tuhan Infinite Zero (&.0)” dituliskan Oleh Christianto Wibisono – Redaktur politik Harian Kami 1966-1970 Pendiri dan direktur TEMPO 1970-1974 Pendiri Pusat Data Business Indonesia 1980-2000 Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia 2012.

google via Berdikari Online

Hari Rabu 4 April 2018 Presiden Jokowi meluncurkan pameran Revolusi Industri 4.0 di JICC. Bersama Bung Karno saya berkeliling menyaksikan acara yang tetap menampilkan “assertiveness” rasa percaya diri yang besar pada diri presiden ke 7 RI itu.  Saya mengawali Wawancara ke-7 dalam seri WIBK 2018 ini.

CW: Selamat pagi pak, saya salut bapak tetap antousuias dan tetap bersedia memberikan komentar terhadap situasi nasional Indonesia ditengah Revolusi Industri 4.0 meskipun keluarga sedang prihatin dan peduli dengan kasus puisi mbak Sukma yang sedang digoreng oleh lawan politik menuju daur ulang kasus A Hok. Mungkin bapak sudah bisa memberikan pencerahan yang lebih dalam, tuntas dan obyektif terhadap kasus ini.

BK: Saya akan obyektif tidak mengenal nepotisme dan membela anak sendiri. Kalau anak salah ya harus disalahkan kalau dia benar ya harus di benarkan. Barangkali memang terlalu jauh unsur ke-seniwati-an , ke-seniman-an yang dilakukan oleh Sukma  menurut kacamata kaum konservatif religi yang memang masih berada pada dimensi abad pertengahan zaman pra revolusi industri. Karena itu saya memberi tema dan judul wawancara kje-7 ini dengan dimensi teologis yang tuntas pasca wafatnya Stephen Hawking yang dinilai Atheis tapi justru telah membuka cakrawala mutiuversal, sebagai jagat raya yang pluralis, bukan monoversal atau universal tunggal. Nah kita disini memasuki wilayah teologi yang penuh fanatisme absolutisme dan tidak mengenal kompromi ataupun “mengalah”. Sebab setiap agama, me mutlakan diri sendiri dan nabinya sendiri secara total, final tanpa kompromi.

Tapi Tuhan itu kan omnipoten, omnipresent, omnipower, omni exist, alpha dan omega, awal dan akhir , eternal, permanen, perpetual, berkelanjutan, berkesinambungan. Tuhan jelas tidak mungkin di kerangkeng oleh manusia abad ke-7 atau abad keberapapun sebagai “imaginasi temporer” manusia kurun waktu tertentu. Seperti ditulis oleh Tom Friedman di New York Times 2005 jika agama Hindu dianggap sebagai Tuhan 0.0 sesuai dengan fakta India adalah penemu besaran nol (zero). Lalu bangsa Yahudi mengklaim dirinya sebagai Monotheis pertama yang berbeda dari Polytheis Hindu dan Junani Romawi yang juga mengenal banyak (poly) dewa karena itu disebut God 1.0 ( Tuhan.  1.0).

Agama Kristen disebut sebagai God 2.0 dan Islam God 3.0  Orang bisa memperdebatkan klaim itu tapi bisa juga menolak dan menentukan kriteria yanglain samasekali. Yaitu Tuhan Infinite.Zero bawa Tuhan itu tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu terbatas berupa rasio (otak)  manusia dan juga keterbatasan zaman yang mengalami metamorfose dan transformasi yang luar biasa. Alam semesta dan daya pikir manusia berkembang secara exponential dan merupakan quantum leap, lompatan quantum yangluarbiasa.

Kemampuan  iptek manusia itu berlipat ganda, dalam rentetan Revolusi Industri sejak zaman mesin uap James Watt (industi 1.0), listrik Edison (industri 2.0), IT era komputer IBM raksasa  (industri 3.0 )menjadi internet of things (industri 4.0). Kemampuan ketrampilan manusia berubah dan naik kelas dari sekedar menggunakan otot sendiri, kemudian memanfaatkan hewan dan akhirnya kecerdasan otaknya menemukan dan menciptakan proses industri kimia yang merupakan lompatan menakjubkan terjadi segala bidang dari atom nuklir sampai biogenetika stem cell dan astrofisika multiversal . Tapi didalam dimensi moral dan etikanya, terjadi suatu kemandekan,  konservatisme watak kebencian, cemburu, dengki, iri yang bisa disebut dengan Kabil isme, mengacu pada Kabil yang tidak rela mengakui situasi dan kondisi dimana adiknya Habil, “lebih direstui” Tuhan dan karena itu “hatred ideology” Kabil itu langsung berubah jadi pembunuhan perdana, akar terorisme global terhadap sesama saudara sendiri, karena Kabil tidak rela adiknya memperoleh “imbalan meritokrasi” dari Tuhan.  Nah dalam perkembangan evolusi manusia, kemampuan teknologi manusia berlipat ganda baik yang konstruktif maupun destruktif. Nuklir bisa jadi pengobatan kanker, tapi juga bisa jadi bom nuklir penghancur ummat manusia.

Nah  disiniah terjadi situasi dan kondisi dilemmatis bagi ummat manusia. Kemampuan teknologi itu tidak dikontrol oleh manusia secara positif, melainkan bisa dipakai secara destruktif untuk menghancurkan  sesama manusia, karena pengaruh kebencian. Ini yang sudah kita kutip beberapa hari lalu mengacu pada talk show Budiman Sujatmiko bahwa benci itu hanya ada pada manusia tidak ada pad macan, gajah atau hewan liar buas apapun. Karena itu “hatred ideology Kabil” itu merupakan kendala utama bagi perdamaian dunia dan harmoni kebersamaan manusia sejagad yang berbeda ras, etnis, agama dan pandangan hidup multiversal kita semua.

CW: Wah ini kayak kuliah S3 PhD untuk menjadikan semu aorang punya kemampuan debat mirip Rocky Gerung . Manusia awam kan hanya hidup sederhana simple berminan kepada Tuhan dan berusaha menerapkan golden rule. Do unto others what you like them do unto you . And do not do unto others, what you dont like them unto you. Golden rule pasti diterima semua agama. Problem utama adalah menegakkan golden rule itu secara multiversal berlaku untuk seluruh ummat manusia dan semua nation state yang berbhineka profile dan “anatomi” sosio historis empirisnya. Apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia menghadapi Kabilisme global itu pak.

BK: Saya tekankan ya kembali ke Pancasila sejati yang di deliver secara konkret. Kita mengakui adanya Supranatural Power yang omnipoten, yang lintas bangsa, lintas bahasa, lintas agama, lintas waktu. Tuhan itu adalah Infinite,Zero karena itu jangan kita coba jadi Tuhan dengan menghakimi dan mengadili orang lain secara sefihak apalagi secara  fanatic dikendaikan oleh DNA reptilia “hatred ideology” Kabil.

Saya akui saya sendiri dulu gagal mendeliver Pancasila sejati dan karena itu ekonomi Orde Lama terpuruk dan dibangkitkan olehOrde Baru. Tapi Soeharto juga mengulangi kesalahan yang sama dengan Orde Lama, maka Orde Baru juga dibangkrutkan oleh sanering dan keterpurukan rupiah di tahun 1998. Nah pada setiap prantian rezim selalu terkandung harapan over optimis dan euforia kemenangan Orde Baru terhadap Orde Lama dan Orde Reformasi terhadao Orde Baru.  Meskipun ada juga residu kebencian reptilia dan ketiadaan meritokrasi, sehingga kemajuan dan kinerja Indonesia terhambat oleh sentimen pri ordial sara yang mengakibatkan bangsa ini tidak bisa tumbuh 7% meskipun indikator ekonominya cukup “sehat, tidak sakit”. Ibarat pasien ditest dara semua bagus, tidak ada kolesterol dan gangguan metabolisme lain akibat kelainan organ  fisik biologis   tapi ternyata impoten dan tidak bisa lancar seperti pesaing setara misalnya Vietnam. Untuk hari ini sampai disini saja dulu besok kita lanjutkan lebih canggih tapi tetap mudah tercerna.

CW: terima kasih atas pencerahan bapak yang sangat mendasar tentang Meritokrasi vs Kabilisme.

Logo & itu harap dimaknai sebagai infinite.