Dimuat di situs Kompasiana, “WIBK 8 Teologi Maut Vs Berani Hidup Buya Syafii Marief” dituliskan Oleh Christianto Wibisono – Redaktur politik Harian Kami 1966-1970 Pendiri dan direktur TEMPO 1970-1974 Pendiri Pusat Data Business Indonesia 1980-2000 Pendiri Institute Kepresidenan Indonesia 2012.

google via Berdikari Online

Hari Jumat 6 April 2018 dalam beberap ahari ini beredar video pidato Buya Ahmad Syafii Marief yang sangat lugas, tegas, tuntas berteme Teologi Maut vs Berani Hidup dan menganjutkan orang baik akar berani hidup dan menyuarakan kebenaran ditengah barisan Teologia Maut yang berani mati dengan meledakkan orang lain serta diri sendiri yang juga merupakan tindakan  dosa di semua agama. Saya berdiskusi dengan Bung Karno di Kolam Renang Hotel Indonesia Kempinski lantai 11 atap sehingga bisa melihat kolam renang Mandari maupun Grand Hyatt.

CW: Pagi pak, Buya Syafii mencetuskan istilah tepat sasaran tentang adanya barisan berani mati yang memakai teologi maut menciptakan neraka atau kiamat  dunia. Itu harus dihadapi oleh manusia normal, baik dan sehat jasmani rohani untuk mempertahankan prinsip berani hidup.Apa komentar bapak terhadap cetusan jitu tajam dan tepat makna itu ditengah kegalauan politik memanas menjelang pilkada 2018 dan pilpres 2019.

BK: Fatmawati putri Muhamadyah, ketika Masyumi saya bubarkan karena terlibat PRRI/Permesta saya tetap didukung oleh tokoh Muhamadyah H Mulyadi Djojomartono sebagai Mensos dan Menko Kesra. Berbeda pendapat dalam politik kan bisa saja, tidak perlu harus diselesaikan dengan adu fisik duel atau perang saudara, pemberontakan seperti yang kita alami sejak DI TII sampai PRRI/Permesta.

Buya Syafii adalah tokoh moderat, pluralis, reformis yang layak jadi “Martin Luther” Indonesia, malah mendahului Mohamad bin Salman dalam membawa Islam global menuju moderation toleransi dan koeksistensi dama berdampingan dengan agama lain diseluruh muka bumi dan menjadi rahmat seluruh umat manusia.

Teologia maut mengacu pada masa lalu yang memang pernah menyedihkan dan melahirkan konservatisme teologi maut, “perang salib” “perang sabil” “perang peradaban Huntington. semua itu menjadi realitas pahit yang dihadapi ummat manusia . Kita berharap dunia bakal mentas tuntas dari sisa sisa DNA reptilia, kebencian berbasis SARA yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup homo sapiens.

CW: Pak generasi milenia kurang tertarik filosofi kayak “ayatollah Drijarkara” mereka mau yang praktis pragmatis saja.

BK: Sebetulnya yang dibicarakan Buya sangat praktis, zaman berani mati sudah konyol, masa lalu. Sekarang zaman Berani hidup, memberdayakan kehidupan agar anda survive lalu bisa bermanfaatkan bagi dunia sekitar se maksimal yang anda diberkati dengan talenta bakat dan kinerja yang anda mampu. Memang faktanya dari 7 milyar manusia mungkin 2 milyar masih dibawah garis kemiskinan, tergantun ukuran apa, 1 atau 2 dollar per hari atau kebutuhan  kalori gizi minimal.

Yang 5 milyar sudah kelas menengah keatas sedang Indonesia ini memang 100 juta masih “miskin” 100juta menengah dan 50 juta mungkin sudah tergolong kelas menengah keatas termasuk  barisan orang orang terkaya sedunia. Salah satu yang paling gampang dikobarkan apiny aya kebencian kepada orang kaya. Ini yang kemarin kita bahas tentang Kabilisme. kecemburuan dengki iri, terhadap sesama yang lebihsukses menguasai asset. Memang negara dan badan kerjsama lintas negara seperti PBB, memang mestinya harus mengambil tanggungjawab jangan sampai membiarkan orang menderita sengsara dibawah garis kemiskinan dan kelayakan hidup sebagai manusia.

Tapi jangan samai agitator menghasut orang untuk menurunkan kelas yang berpunya agar jatuh melarat bersamaan dengan yang miskin. Problemnya adalah bagaimana mengangkat yang miskin ke tingkat yang lebih menengah dan seterusnya keatas dan bukan menyeret yang sudah diatas untuk sama sama melarat dibawah seperti kegagalan komunisme di Uni Soviet RRT dan seluruh kapok termasuk Korea Utara sekarang juga membuka diri untuk pariwisata dan investasi meski[un tentu tidak seterbuka seperti Korea Selatan.

CW: Wah bapak dikira sedang bertransformasi dari Nasionalis Marhaenis jadi Sosial Demokrat Kanan model Syahrir.

BK: Para penganut ideologi New Left sekarang harus lengkap mempelajari buku GlobalizationKey Thinkers oleh Andrew Jones  yang menampilkan sistimatika kronologi perkembangan disekitar teori globalisasi. Mulai dari teori sistemik Immanuel Wallerstein, konsepsi Anthony Giddens, sosiologis Manuel Castells, transformasional David Helss dan Grahame Thompson, dst sampai kolumnis Thomas Friedman dan Martin Wolf ; ekonom Joseph Stiglitz dan tentu saja ditambah buku buku lain diluar itu yang sangat signifikan maknanya dalam sistimatika berfikir strategis mendasar, Misalnya buku Anatole Kaletsky, Capitalism 4.0 yang menguraikan perkembangan kapitalisme sejak Adam Smith (capitalsim 1.00, Keynesian (capitalisme 2.0), Big Bang Reaganomics dan Thacherism (capitalism 3.0), serta pasca krismon AS Eropa 2008 (capitalisme 4.0).  Jadi capitalisme itu setelah mengalami tantangan konfrontatif dari ekstrem kanan Fasisme Hilter dan ekskrem kiri komunisme Stalin Mao, selalu mempinyai kapabilitas tranformantif untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan tuntutan zaman tanpa harus mengalami kebangkrutan total seperti nasib komunisme yang gagal total mendeliver surga dunia yang utopis.

Capitalisme 1.0 laisses faire laises passe berdampak  krisis Wall Street 1930an, dikoreksi oleh capitalisme 2.0 berupa intervensi negara melalui kebijakan Keynesian Inggris dan FDR New Deal, Social Security di AS. Setelah satu generasi AS yang menanggung beban “subsidi” bangkitnya Eropa Barat menyetop konvertibilitas dollar dengan emas pada 1971 lalu memasuki capitalisme 3.0 big bang financial revolution yang bermuara pada krismon Asia Timur 1998 dan krismon AS dan Uni Eropa 2008.

Nah sekarang Trump malah mundur ke era proteksionisme gaya baru sedang RRT justru jadi kampiun perdagangan bebas, menolak penerapan bea cukai tinggi dalam perdagangan global.  Ya dunia berjalan terus seolah pendulum kiri kanan mempengaruhi kita sejak dulu juga sebentar ke Sosialisme era bapak,  kapitalisme dini era Soeharto dan sekarang ini memang harus ke jalan tengah meritokrasi bagi kekuatan yang inovatif sambil memproteksi kelas yang lemah tapi harus tetap memperkuat Indonesia Inc jangan sampai jadi sara dan terpecah belah apalagi malah balik ke kiri yang embahnya komunis saja sudah kapok semua .

CW: Sekarang Huntington yang valid dengan barisan Teologi Maut berani mati.karena munculnya Osama Bin Laden sebagai eksekutornya.Apa yang bisa diperbuat Indonesia sebagai “the largest Moslem populated country in the world. ”

BK: Ya Pancasila merupakan mioniatur dunia yang plural. Didunia ini tidak ada mayoritas suatu agama, semua maksimal 1.7 total. Jadi kata kunci toleransi dan menghormati plrualisme adalah mutlak karena7milyar man usia tidak ada yang mayoritas, semua terimbangi secara proporsional. Masalah bagi umat manusia adalah menyeberangi batasan sejarah lompatan quatum yang untuk teknologi sudah dilalui dengan sangat cepat dan dahsyat  sehingga iptek manusia zaman abax XXI ini sudah jauh berbeda dengan iptek manusia 200 tahun lalu.

Seandainya iptek selama 200 tahun terakhir sejak James Watt 1776 majunya hanya seperti 1800 tahun sebelumnya maka kita belum akan sampai era digital sekarang ini. Nah lompatan iptek luar biasa itu tidak terjadi dalam moral manusia yang etikany amasih dibelenggu oleh kebencian Kabil atas meritokrasi saudaranya.

Ini saya tidak bosan menekankan  bahwa para Kabilis, pembenci sesama karena cemburu terhadap kinerja pesaing nya itu merupakan virus destruktif dunia dan umat manusia. Maka kembali ke video pidato Buya, orang baik dan bermoral harus berani hidup menyetop teologi maut oknum berani mati. yang mau mengkiamatkan dunia.

CW: Terima kasih pak atas pencerahan globalisasi secara praktis up to date.