Pada Minggu, 10 Juni 2018, saya khusus berdialog dengan Bung Karno karena didesak oleh pimpinan watyutink, Eros Djarot, untuk menanggapi rencana KTT Puan Maharani dengan Prabowo Subianto. Di tepi kolam renang Hotel Indonesia Kempinski di lantai 11 East Mall Grand Indonesia saya mengawali WIBK khusus 10 Juni 2018.

CW: Selamat pagi, Pak. Selamat juga atas ulang tahun Pancasila 1 Juni, juga selamat atas hari ulang tahun Bapak 6 Juni. Prihatin atas “kemelut BPIP” serta terakhir ini keruwetan disekitar cawapres 2019 yang berujung rumor KTT Puan Prabowo. Mungkin bapak bisa memberikan ” fatwa” kebijakan yang arif bijaksana bagi elite Indonesia terutama, kerabat biologis maupun ideologis, agar dinasti Sukarno dan Presiden Petahana Jokowi dapat melanjutkan sampai 2024 dan bahkan menjamin seterusnya NKRI tidak jatuh ditangan “oposisi” yang siap mengincar bila terjadi disrupsi dan distorsi PDIP dan presiden petahana?

BK: Semua di alam medsos dan kebebasan pers ini tidak bisa kita bendung termasuk urusan dapur, kamar tidur dan konspirasi yang dulu bisa diam-diam tapi sekarang nyaris mustahil menghindar dari sorotan sosmed yang mengintai dari balik semua pertemuan dan pembicaraan yang bisa disadap. Saya tegaskan dinasti Sukarno akan jalan terus karena begitu banyak putra-putri saya dan cucu-cucu saya yang tidak mungkin “dihabisi” atau diadu domba oleh lawan politik. Jadi Jadi kalau Puan gagal, ada Puti, kalau Puti gagal ada Prananda dan seterusnya dari garis Rachmawati, dan Sukmawati. Sekarang dalam masalah koalisi PDIP dan Jokowi maka keduanya harus berhitung bahwa tetap melanjutkan koalisi akan menyelamatkan sampai 2019 bahkan bisa menjadi modal untuk 2024.

Prabowo dan Puan – Foto: Inilahcom

CW: Wah itu kan cuma pidato menggebu seorang ayah dan kakek untukmemberi semangat anak cucu, tapi ini Eros Djator penulis pidato Mega (zaman dulu) saja bingung membaca KTT Puan Prabowo.

BK: Ya, politik sebetulnya universal, manuver paling lihai dalam mengakuisisi kekuasaan. Sebagai presiden pertama merangkap Perdana Menteri sistem kabinet presidensial UUD 1945, saya “dikup'” dengan Maklumat Wapres Hatta No X 16 Oktober 1945 yang merubah sistim kabinet jadi parlementer dan Sutan Syahrir dari PSI jadi Perdana Menteri ke-2 RI. Alasannya waktu itu lucu sekali, karena Sekutu menolak berunding dengan Sukarno yang dicitrakan sebagai kolaborator Jepang. Tapi ketika Sutan Syahrir diculik oleh kelompok Tan Malaka dalam kudeta 3 Juli 1946 maka saya menyelamatkan dan tetap mengangkat kembali Syahrir sebagai PM, sampai dia dijatuhkan oleh orang keduanya sendiri Amir Syarifudin yang akan menjadi PM Ke-3 RI dan akan tragis terlibat pemberontakan PKI Musso dan di eksekusi. Setelah itu Hatta jadi PM Ke-4 dan kita memakai sistim parlementer gonta-ganti PM. Dari PM ke-5 Natsir dan ke 6 Sukiman keduanya dari Masyumi lalu Wilopo dan Ali Sastroamijoyo dari PNI dilanjurkan oleh Burhanudin Harahap dari Masyumi yang menyelenggarakan pemilu paling fair dimenangkan PNI 1955. Kabinet hasil pemilu dipimpin lagi oleh Ali Sastroamijoyo akan bubar 1957 dilanjutkan oleh Kabinet yang saya bentuk sendiri sebagai formatur dengan Juanda sbg orang ke-10 yang menjadi Perdana Menteri RI sampai Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang kembali ke UUD 1945 dan saya kembali sebagai Presiden Perdana Menteri sampai dilengserkan oleh Soeharto sejak MPRS mengukuhkan Supersemar jadi TAP MPRS dan melucuti kekuasaan saya.

CW: Wah itu sudah sejarah masa lalu pak ini 2018 Nasib Jokowi dan dinasti Sukarno tergantung kelihaian dan keberhasilan sinergi Megawati-Jokowi, jangan sampai malah Puan-Prabowo menentukan arah kepresidenan Indonesia

BK: ya ini mirip waktu Mega terus mengulur waktu 2014 dan saya merasa dia berhak untuk survivalnya dinasti Sukarno yang sudah kenyang dikup bukan sejak sekarang tapi baru duduk saja sudah digulingkan dari kursi Perdana Menteri kabinet presidensial pertama RI. Sebetulnya Jokowi itu kan petahana, dia bisa bikin kebijakan yang mengubah dan meng”akuisisi” dukungan rakyat . Dia harus deliver. Nah yang belum pernah di-deliver oleh 7 presiden Indonesia (termasuk Jokowi sekarang ini) adalah nilai rupiah yang mantap. Saya sudah baca seluruh sejarah ekonomi dan jatuh bangunnya rezim di negara berkembang maupun negara maju seperti AS. George Bush Sr. jatuh karena ekonomi digantikan oleh Bill Clinton pada tahun 1992, 7 presiden Indonesia ini kalah oleh kurs rupiah. Semua politisi yang pernah jadi Menkeu dan atau Gubernur BI adalah politisi lintas spektrum dan lintas mazhab. Mulai dari Masyumi Syafrudin menggunting uang 1950 terus Djuanda Notohamprojo, tehnokrat non partisan juga sanering 1959 terus sanering 1965 oleh Menteri Sumarno (ayahanda menteri Rini ) dan Jusuf Muda Dalam berbuntut saya lengser di tahun 1966. Soeharto juga keok meski sudah 5 kali devaluasi, yaitu 3 x oleh Prof DR Ali Wardhana chief Mafia Berkeley dan 2 kali oleh Radius Prawiroe ekonom Rotterdam.

CW: Saya tahu arah bapak usul CBS mematok rupiah pada Rp15.000 dan deklarasi rupiah baru dengan kurs 1 RP MILENIAL = 1 US$. TIDAK ada gonjang ganjing nilai kurs sebab dipatok. Untuk itu RI harus naik kelas jadi 10 pemegang saham pengendali Bank Dunia IMF yang dimungkinkan oleh Review XV yang akan disahkan di Bali Oktober 2018 ini. Jakarta harus direstui oleh Washington, Beijing, London, Tokyo dan Berlin yang semuanya punya mata uang pengendali. Rupiah kita harus dipatok seperti Hongkong dan Singapura mematok mata uangnya. Tentu saja kata kunci dari ini adalah kenaikan daya saing dan daya ekspor kita. Kalau anda tidak eksport dan tidak surplus jangan harap mata uang bisa stabil dan menguat. Itu kan bendera Jokowi anti korupsi, saber pungli dan brantas KKN. Itu diintensifkan untuk menurunkan ICOR dari 6,4 ke 2,3 . Ini semua bisa dilakukan selaku petahana.

CW: So simple and too good to be true pak. Saya tidak tahu resep “out of the box:” ini akan diterima atau tidak oleh watyutink sebagai penjaga gawang “etos semangat Eros Djator”.

BK: Indonesia akan memiliki banyak presiden tidak cuma 7 orang sekarang ini dan saya optimis kalau generasi muda belajar dari sejarah akan percaya bahwa hukum karma itu suatu golden rule. Yang eling lan waspada yang menang. Bisa saja untuk sementara berkuasa termasuk 32 jadi diktatur Orba tapi akan terguling juga karena tidak deliver. Sekarang peluang ada pada petahana untuk memanfaatkan momentum peluang kenaikan quota saham Bank Dunia ini untuk RI mentas dari trauma kurs dollar seumur hidup sejak lahir sampai 75 tahun. Kok presiden keok sama kurs rupiah dollar? Memalukan.

 

Dituliskan oleh Christianto Wibisono, pendiri PDBI, pada Minggu, 10 Juni 2018